Ibadah haji sesungguhnya harus dimaknai dalam kerangka melepaskan hasrat-hasrat duniawi kita, keluÂar dari terungku ego kita, menuju ke Baitullah, Rumah Allah. Di situ, di Rumah itu, kita mengalami transÂformasi yang radikal, sedemikian sehingga kita layak menjadi tamu-Nya. Haji adalah keluar dari rumah ego, rumah hasrat wadag, menuju Rumah Allah yang luas, agar hamba dapat diterima sebagai tamu dan menerÂima jamuan Ilahi yang tersedia di dalam rumah-Nya.
Transformasi spiritual seorang pelaku haji harÂuslah tampak, setidaknya, dalam niatnya, cara berÂpikirnya, dan perhatian hatinya terhadap dimensi spirÂitual yang selama ini tak tersentuh. Setelah itu baru hasilnya bakal memancar ke sekujur tubuhnya dan perilaku kesehariannya, kelak saat ia selesai menunÂaikan seluruh manasik haji. Itulah mengapa salah satu dari aktivitas ibadah haji adalah menyembelih kurban. Sebagaimana Nabi Ibrahim bersedia mengurbankan putranya Ismail di jalan penghambaan, demikian pula tiap pelaku haji harus memiliki kesiapan itu.
Sudahkah haji kita seperti itu?
Sayangnya, haji yang seperti itu agaknya telah lama hilang dari perhatian umat dan digatinkan denÂgan haji kapitalis dan konsumtif yang diawali dengan niat wisata jasmani, disusul dengan upaya menabung untuk membayar ongkos-ongkos haji, ditambah lagi dengan pemandangan perhotelan dan pusat-pusat beÂlanja yang alih-alih membawa kita pada suatu suasana dan aura spiritual yang suci justru memantapkan watak kapitalis dan konsumeris dalam diri para jamaah haji.
Tentu tiap orang harus bertanggungjawab atas kualitas ibadah hajinya masing-masing. Tetapi apa yang dilakukan rezim kerajaan Arab Saudi dalam 50 tahun terakhir justru berujung dengan mengukuhkan semangat kapitalis dan konsumeris dalam aktivitas haji tersebut. Pemugaran hampir seluruh bangunan sakral di dalam Masjidil Haram dan menggantinya dengan arsitektur modern yang sarat denan nuansa kemegaÂhan dan kemewahan, penghapusan hampir seluruh jejak historis yang memiliki nilai sakral di dalam dan di lingkungan kota Makkah telah menghancurkan aspek spiritual haji. Ditambah lagi dengan sikap para penyÂelenggara haji yang terus mendesakkan hasrat-hasrat duniawi di dalam diri hujaj. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















