
Sedangkan mereka yang berada di kelompok ketiga mengaku menjadi lebih kalem dan terkoneksi atau akrab dengan keluarga maupun teman-temannya, dan koneksi ini membantu menurunkan tingkat stres mereka.
“Temuan ini sebenarnya tidak begitu mengejutkan karena memotret memang memicu perasaan positif. Tetapi kami terkejut setelah melihat kelompok ketiga yang menjadi lebih tenang setelah selfie setiap hari, bila dibandingkan dengan dua kelompok lainnya,” ungkap peneliti Yu Chen.
Chen tidak mengetahui apa penyebab pastinya. Ia hanya menduga perasaan terhubung dengan sanak saudara, teman maupun orang lain berdampak positif bagi mental seseorang.
Apalagi, tambah Chen, kebiasaan berfoto selfie ini bisa jadi ‘obat mujarab’ utuk meringankan beban mahasiswa yang tak hanya harus tinggal dan mengurus dirinya sendiri, tetapi juga membantu menghadapi persoalan lain yang lazim ditemukan pada anak kuliahan seperti masalah keuangan, kesepian, terisolasi dari lingkungan dan tugas yang menggunung.
“Apalagi bila ini dibiarkan, pada beberapa kasus, kondisi semacam ini terbukti dapat memicu depresi,” imbuh Chen seperti dilaporkan Livescience.(Yuska Apitya)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















