MAKNA Hijrah dalam Islam sebaiknya dipahami luas dalam kehidupan manusia. Apapun makna hijrah harus bersama dengan gerak hati, fisik dan adanya perubahan. Gerak hati dan tubuh harus atas dasar nilai akhlak. Gerak fisik harus dimaknai gerakan tubuh seseorang untuk beradaptasi, berpindah, dan mengatasi masalah. Masalah itu bisa musibah akibat bencana ekologis. Dengan begitu Hijrah selalu kita pahami berubah dan berindah menuju ke perubahan yang baik. Perubahan itu bisa karyanya yang berubah untuk kebaikan.

Perubahan peradaban menghasilkan manusia yang berakhlak baik. Kini berbanding terbalik peradaban tadi. Justru kerusakan makin luas dan sudah diluar ambang batas keseimbangan. Tentu kita sedang dalam ambang batas yang mengerikan. Kita bisa jatuh kembali kepada jaman jahiliah yang dulu telah berlalu. Apa yang tidak terjadi jaman kini. Kerusakan itu makin parah.

Mulai dari kerusakan sosial sampai kepada kerusakan lingkungan hidup. Sampai pula kepada guncangan ekonomi yang siap memiskankan manusia. Pembunuhan manusia sudah dilakukan terang-terangan. Perjinahan sudah dilakukan kembali secara terang-terangan. Manusia laki cinta kepada manusia laki. Manusia perempuan cinta kepada yang perempuan. Seolah-olah sudah terbalik kondisinya.

Manusia banyak membicarkan agama. Mengakui penuh kalau Islam agamanya. Ingin mengabdi sepenuhnya kepada Allah tetapi dia juga perusak berat pada lingkungan. Sekian banyak kerusakan tadi maka kerusakan lingkunganlah yang dikesampingkan. Tingginya sampah dan seringnya banjir tidak lain karena kita tidak sukses untuk berubah. Hutan yang tinggal sedikit dan hewan punah tidak lain karena manusia tidak sukses untuk berubah.

Padahal secanggih apapun perubahan tadi tidak akan berarti saat sumberdaya alam mengalami kerusakan berat. Peradaban akan jatuh pada saat kita krisis energi. Bencana ekologis seperti banjir dan longsor turut meruntuhkan peradaban kita. Belum lagi kalau kita terancam dengan oksigen yang kotor dan krisis. Kita juga akan mengalami krisis air dan krisis ikan disungai. Hewan-hewan kita juga banyak yang punah.

Entah dimana lagi hewan-hewan yang tersisa tadi. Dimana lagi mereka tinggal sementara rumah mereka telah tergerus akibat peradaban kita. Bahkan banyak yang cacat akibat terjadi bencana. Peradaban apapun jenisnya akan mengalami keruntuhan pada saat nilai-nilai adab tadi tidak tumbuh pada diri manusia. Tentu setelah kita mengalami perkembangan peradaban. Secara berangsur-angsur kita jatuh dan penuh dengan masalah.

Baca Juga :  PUASA RAMADAN SAATNYA KITA SEMUA UNTUK TOBAT NASIONAL

Apa yang salah pada peradaban itu? apakah sains atau ilmu dari peradabannya, agamanya, ataukah manusianya. Kita nampak tidak menjalankan ilmu dengan akhlak. Kita mengasah ilmu pengetahuan namun kita tidak mengasah akhlak. Akhirnya ilmu berkembang karena manusia berpikir namun tidak menjalankan ibadah dengan baik. Artinya tidaklah benar peradaban tanpa nilai akhlak. Akhlak saja yang berkembang juga jadi manusia yang konservatif. Peradaban juga tidak berkembang karenanya.

Harusnya tidak terjadi dikotomisasi antara ilmu, agama dan akhlak. Hasilnya karya manusia yang beradab sebab nilai akhlak dari agama itu yang tidak diterapkan. Selama ini kita selalu membedakan ini teknologi tradisonal dan ini teknologi moderen. Perubahan itu nampak merusak kepada teknologi yang lain. Hasil karya yang baru juga merusak metode yang lama. Perubahan apa yang tidak menghasilkan keburukan.

Saat teknologi pemupukan ditemukan mengakibatkan kerusakan pada ekologis. Saat pestisida sudah ditemukan menyebabkan dampak buruk pada ekosistem. Hewan seperti musuh alami banyak yang punah. Air dan udara terkontaminasi racun dari pestisida. Dengan begitu, apakah kita sudah beradab? Saat kita temukan ilmu perbetonan dan maju pula ilmu tentang bangunan. Akhirnya bangunan makin tinggi dan luas.

Bencana banjir dan kekeringan makin sering pula terjadi akibat luasan bangunan dan tingginya bangunan tadi. Apakah kita sudah beradab?. Ilmu-ilmu agama dan perguruan tinggi atas nama agama berkembang pesat. Perguruan tinggi umumpun sama. Hasilnya manusia yang intelektual, makin banyak yang dihasilkan mengapa bencana ekologis makin luas pula? Pendidikan adab sekian banyak juga telah ditempuh oleh manusia Indonesia.

Dari sekolah SD sampai ke perguruan tinggi. Adap dan adab lagi yang dibicarakan. Sampai kini bencana itu makin luas maka makin luas manusia yang kurang beradab. Seberapa seringpun diberikan pendidikan nampaknya kita belum bisa berubah ke arah yang baik. Lantas apakah kita sudah menuju peraban yang baik. Akar masalahnya terletak kepada manusianya.  Perilaku yang baik hanya bisa dibangun karena akhlak manusia.

Penciptaan teknologi yang maju pada pertanian harus seimbang dengan akhlak terhadap ekologis. Pada jaman Nabi bukan hanya sekedar merubah kerusakan tetapi bersaman dengan perbaikan akhlak manusia. Pada jaman nabi perbaikan bukan sekedar konsep berpikir tetapi sampai kepada aplikasi teknis untuk menyelesaikan bencana. Kita tidak sama seperti jaman nabi. Banyak orang yang berpikir canggih dan tinggi namun minim solusi tindakan. Padahal dalam perubahan harus ada aksi yang dilakukan.

Baca Juga :  PUASA RAMADAN SAATNYA KITA SEMUA UNTUK TOBAT NASIONAL

Harus ada gerak tubuh secara fisik disamping gerakan otak dan hati. Rasulullah Saw berpindah pada saat kota Mekkah tidak aman ke Madinah. Saat itu Nabi menghindar dari masalah tadi dan berusaha untuk mencari cara untuk mengatasinya. Kita kini tidak seperti itu. Meski bencana sudah didepan mata tetapi tetap saja kita tidak mau pergi. Kita sengaja menghadang bencana sehingga korban banyak berjatuhan. Kita sudah tau hujan datang namun kita belum bergerak untuk mencari tempat yang aman.

Pemerintahpun masih diam saja. Selalu saja pemerintah terlambat untuk mengatasi bencana itu.  Harusnya gerakan tubuh harus dilakukan saat kondisi itu sudah genting. Tentu kedepannya harus digerakan penyuluhan ekologis pada setiap kemajuan sektor pembangunan. Haruslah ekologis menjadi prioritas yang harus dilestarikan sejalan dengan perkembangan peradaban manusia tadi. Teknologi bangunan haruslah ramah ekologis.

Pembangunan mall dan jalan haruslah dipertimbangkan kerusakan ekologisnya. Pembangunan pertanian juga harus memperhatikan keseimbangan ekologis. Kendaraan juga harus ramah ekologis. Disini tugas berat dari bidang trasportasi untuk meminimalkan kerusakan ekologis akibat kendaraan. Kita tau polusi udara makin tinggi pada saat makin banyak pembakaran bahan bakar minyak. Lambat laun polusi juga makin tersebar luas. Tentu perabadan yang kita alami kini belum menuju perubahan yang baik.

Selama ini kita terlalu serakah dalam hal ekonomi sehingga kita tidak beradab untuk mengambil materi itu. Kita juga serakah saat mengambil bagian dialam semesta. Keserakahan itu sampai kini juga terus berkembang. Tentu makin banyak manusia yang serakah. Lantas apakah kita sudah menuju perubahan yang baik? Apakah kita sudah mau berubah. Pada level apa kita sudah berubah? Itulah hal yang sulit untuk kita jawab.

Halaman:
« 1 2 » Semua