Opini-2-HeruOleh Heru B Setyawan, PemerhatiPendidikan

Ada tiga balon (bakal calon) Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta pada tahun 2017, yaitu pasangan petahana (incumbent) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Djarot Saiful Hidayat, kemudian pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dengan Sylviane Murni dan pasangan Anies Rasyid Baswedan dengan Sandiaga Shalahudin Uno.

Kondisi dan situasi sosial, ekonomi, keamanan dan politik Jakarta adalah barometer bagi Indonesia, maka adalah wajar Pilkada DKI Jakarta menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Dan Pilkada DKI Jakarta menjadi magnit yang menarik bagi kandidat dari luar Jakarta, untuk bertarung merebut Jakarta 1 dan Jakarta 2. Seperti pada Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2012, yang diikuti kandidat dari luar Jakarta, yaitu: JokoWidodo alias Jokowi (Walikota Surakarta/Solo), Ahok (Mantan Bupati Belitung) dan Alex Nourdin (GubernurSumsel).

=Karena Jakarta menjadi barometer bagi Indonesia, maka jika kita menguasai Jakarta, otomatis kita menguasai Indonesia. Dan ini sudah dibuktikan oleh Jokowi, Jokowi berasal dari Walikota Surakarta, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta dan menang pada Pilpres 2014 untuk menjadi Presden RI yang ke 7. Makanya tidak mengherankan, sejak tahun 2015 atau dua tahun sebelum pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta suhu politik di ibukota ini sudah mulai memanas.

Tapi saying hiruk pikuh Pilkada DKI Jakarta ini tidak diikuti dengan persiapan yang baik dari Partai Politik (Parpol) untuk mempersiapkan kandidat sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur. Dengan kata lain Parpol gagal dalam melakukan pendidikan politik pada kadernya, atau gagal dalam melakukan regenerasi kepemimpinan.Berikut adalah kegagalan Parpol dalam melakukan regenerasi, yaitu:

Pertama, pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Djarot Saiful Hidayat yang merupakan koalisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Di koalisi ini peran Ahok sangat dominan dan menjadi primadona bagi anggota partai koalisi. Padahal dulu Ahok sangat pede untuk maju lewat jalur perseorangan (independen) dengan membuat mesin politik pemenangan bernama Teman Ahok untuk mengumpulkan satu juta KTP dan sempat meledek serta menghina Parpol sebagai sarang koruptor.

Tapi anehnya Ahok berubah pikiran untuk mencalonkan diri lewat parpol, dan Nasdem dan Hanura menjadi partai pertama yang mendukung Ahok untuk maju di Pilkada DKI Jakarta lewat jalur partai, hal ini menunjukkan menurunnya wibawa kedua partai ini, karena seharusnya Ahok yang melamar ke partai. Kemudian Golkar menyusul mendukung dan gong pamungkas penentu dukungan adalah PDIP sebagai pemenang Pemilu legislatif di DKI Jakarta.

Meski hanya PDIP yang bias sendirian mengusung calon Gubernur dan wakilnya, karena memenuhi syarat perolehan kursi di DPRD DKI Jakarta, hal ini tidak dilakukan PDIP, malah PDIP mendukung Ahok sebagai Gubernur, sedang kan dernya Djarot Saiful Hidayat sebagai wakilnya. Padahal sebelumnya PDIP sering mengkritik Ahok dan sempat membentuk koalisi kekeluargaan dengan PPP, PAN, PKB, Demokrat, PKS dan Gerindra untuk melawan Ahok. Ini sungguh tindakan yang kurang elegan dan menurunkan citra PDIP sebagai parpo ldengan slogan Partainya wong cilik.

Memang yang namanya dunia politik, akan terjadi dinamika yang begitu dinamis, serta semua hal bias terjadi, tapi bagaimanapun juga main cantik tetap kitala kukan, agar rakyat semakin percaya dan cinta padaParpol.

Ataudalampolitikada jargon yang sangatterkenalyaitu: di politiktidakadateman yang abadi, tapi yang adaadalahkepentingan yang abadi. Ini sah dan boleh-boleh saja, bukankah agama kita juga mengajarkan bahwa kita harus berteman dan berpisah karena Allah SWT, artinya kalau teman kita baik ya kita tetap berteman dengan orang tersebut, tapi jika teman kita jahat ya kita putuskan untuk tidak berteman dengan orang tersebut. Kriteria teman baik disini

adalah teman tersebut yang perilakunya sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist.

Partai lama dan sebesar Golkarpun tidak punya kader yang dicalonkan menjadi calon gubernur atau wakil gubernur, padahal banyak kader yang berkualitas di Partai Golkar, sudah separah inikah kondisi Partai Golkar. Apalagi Partai pecahan Golkar seperti Nasdem dan Hanura, kedua Partai ini, ketua umumnya dulu adalah para Pembina Partai Golkar, yaitu Surya palohdanWiranto.

Kedua, Agus Harimurti Yudhoyono dengan Sylviane Murni yang merupakan koalisi dari Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Pasangan ini terbentuk diluar perkiraan banyak orang atau pasangan kejutan dan koalisi ini terbentuk pada detik-detik terakhir batas pendaftaran ke KPU.

Pada koalisi ini orang kuatnya adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tapi saying menurut penulis, SBY melakukan blunder dan bunuh diri dengan mencalonkan Agus Harimurti Yudhoyono dengan Sylviane Murni. Agus masih muda 37 tahun, meski pandai dan menjadi prajurit terbaik, tapi Agus belum berpengalaman di dunia politik. Elaktibitasnya juga rendah, jika tidak ada nama Yudhoyono di belakangnamanya, nyaris semua orang tidak tahu, siapaituAgus.

Demikian juga dengan pasangannya SylvianeMurni (Mantan Walikota Jakarta Pusat), elaktibitas Sylviane Murni bahkan lebih rendah dari pada Agus. Partai di koalisi ini, sangat memprihatinkan, karena keempat Partai ini tidak ada kadernya yang menjadi kan didat calon gubernur atau wakilnya, sungguh mengenas kansekali. KeempatPartaiini, benar-benar tidak bias berkutik dengan kebesaran SBY.

Ketiga, Anies Rasyid Baswedan dengan Sandiaga Shalahudin Uno koalisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan PartaiGeraka Indonesia Raya (Gerindra).  Hanya koalisi ini yang konsisten, legowo, punya harga diri, berjiwabesar (negarawan) dan terdzolimi. Karena awalnya koali siini bernama koalisi kekeluargaan yang terdiridari 7 Partai, yaitu: PDIP, Demokrat, PPP, PKB, PAN, PKS dan Gerindra.

Koalisi ini dibentuk dengan tujuan untuk mengalahkan petahana Ahok, tapi ditengah perjalanan PDIP kabur dan menyeberang ke Ahok. Kemudian Demokrat, PPP, PKB, PAN menyusul hengkang dan membentuk pasangan Agus dengan Sylviane.

Yang menarik dari koalisi ini adalah munculnya nama Anies Baswedan mantan Mendikbud, padahal Anies dahulu adalah tim sukses Jokowi. Disinilah timbul jiwa besar dan sifat negarawan pada diri Prabowo Subianto untuk menerima Anies sebagai kandidat Gubernur. Itulah cirri seorang negarawan yang lebih mementingkan bangsa, Negara dan umat di banding kepentingan pribadi dan golongan. Jiwa negarawan juga ditunjukkan olehSandiaga Uno, saya tahu diri, jika Mas Anies yang maju, maka saya jadi wakilnya saja, karena beliau lebih hebat dari pada saya. PKS juga legowo dan berjiwa negarawan dengan mengalah tidak jadi mencalonkan kadernya Mardani Ali Sera. Kita tunggu saja hasil Pilkada DKI Jakarta 2017, rakyat Jakarta adalah para pemilih yang cerdas, tahu pasangan mana yang akan dipilih. Jayalah Indonesiaku.


1 KOMENTAR

Comments are closed.