Bahagia-FotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Penulis sedang menyelesaikan S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB dan Dosen tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

Bencana banjir dan tanah longsor tanah air terus mengalami peningkatan. Dua tahun terakhir BPS mencatat Banjir di Jawa barat meningkat dari 40 kali banjir tahun (2012) menjadi 90 kali banjir pada tahun (2013). Banjir skala nasional dua tahun berturut-turut juga meningkat. Tahun (2012) telah terjadi banjir sebanyak 540 kali kemudian meningkat menjadi 683 kali banjir tahun (2013). Diantara daerah yang sering banjir termasuk Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daerah ini termasuk daerah sentra pangan terluas si Indonesia.

Masalah utama bencana karena pembangunan selalu dilakukan pada lahan yang produktif. Perluasan lahan untuk pertanian selalu dilakukan pada lahan hutan karena lahan hutan produktif. Pembangunan mall yang tinggi dan perumahan serta industri juga dilakukan pada lahan produktif. Lahan produktif akhirnya tidak produktif karena fungsinya berganti sehingga luas lahan kritis bertambah.

Menurut BPS (2006-2012) Telah terjadi peningkatan luas lahan kritis di propinsi Jawa Barat. Tercatat  160382 ha tahun (2006) kemudian meningkat menjadi 483945 ha tahun (2012). Selain itu lahan kritis juga meningkat di propinsi Jawa tengah. BPS (2010-2012) mencatat luas lahan kritis tahun (2010) sekitar 2527423,43 ha meningkat menjadi 2757785,34 ha pada tahun (2011). Lahan kritis kemudian meningkat lagi menjadi  3086996,22 ha tahun (2013).

Peningkatan lahan kritis pada daerah bencana tidak lain karena makin luasnya lahan yang tidak produktif. Lahan dikatakan kritis jika lahan tidak bisa menyimpan air sehingga lahan jadi kering. Lahan juga miskin unsur hara karena terjadi pencucian akibat seringnya terjadi pengikisan unsur hara. Selain itu, lahan kritis juga terjadi secara alami. Bahan induk pembentuk tanah biasanya masih didominasi oleh bebatuan. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan yang baik sehingga bahan induk bisa berubah jadi lahan produktif.

Bencana alam seperti banjir dan longsor tidak lain karena tidak terbatasnya penggunaan lahan produktif. Lahan kritis tadi dibiarkan makin meluas dan tidak dimanfaatkan untuk pembangunan. Lahan produktif harus sebagai lahan untuk daerah konservasi, daerah resapan air, dan daerah pertanian. Lahan produktif untuk pertanian juga harus dikurangi. Mulailah menggarap lahan kritis. Lahan kritis masih cukup luas pada daerah sentra pangan seperti propinsi Jawa Barat dan propinsi Jawa tengah.

Lahan produktif jika ditanami tumbuh-tubuhan perakaran dangkal seperti sayuran tidak akan menyelesaikan bencana. Sayuran seperti kangkung dan bayam tidak dapat menahan air. Kita tidak heran kalau bencana longsor dan banjir terjadi pada kawasan lahan pertanian. Jangka panjang lahan pertanian dari lahan produktif akhirnya tidak jadi produktif. Lahannya makin banyak mati dan bertambahlah lahan kritis. Bertambah juga bencana karena lahan tadi banyak jadi lahan tidak produktif.

Mengapa demikian? Tanaman seperti cabai, bayam dan kangkung tidak akan menyempurnakan kesuburan tanah. Cenderung mengurangi kesuburan tanah setiap saat. Unsur hara banyak terserap oleh tumbuhan. Air hujanpun memiskinan tanah karena terjadi pencucian unsur hara tanah dari lapisan atas tanah. Lama kelamaan lahan jadi miskin unsru hara, miskin air, dan miskin makhluk hidup. Syarat ini mutlak harus ada jika ingin lahan produktif. Harus ada material alami yang masuk ke tanah.

Ada makhluk hidup sebagai pengurai sehingga memudahkan air untuk masuk. Kalau tidak ada maka lahan juga krisis air sehingga lahan menjadi kering. Tentu kedepannya lahan dipinggiran sungai akan meningkat jadi lahan kritis. Lahan pada bentang alam datar juga meningkat jadi lahan kritis. Kalau meningkat jadi lahan kritis maka bencana makin luas dan menyebar. Longsorpun makin sering terjadi karena tanaman pertanian sangat dangkal perakarannya. Hujan membuat tanah makin gembur.

Dengan topografi yang curam maka lahan mudah bergeser dan bergerak. Akar cabai, kangkung dan bayam hanya sekitar 10-15 cm saja. Sementara haruslah beberapa meter akar mencekam tanah agar tanah tidak longsor. Tentu jelaslah tanaman pertanian berpotensi membuat mudah longsor. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, lahan kritis seluruh daerah rentan bencana harus dioptimalkan fungsinya.

Lakukan kegiatan konservasi secara biotik dengan menghijaukan daerah tersebut. Setelah daerah itu hijau maka secara berangsur-angsur tanah jadi hidup dan subur. Terjadi proses biologis dimana akar tumbuhan akan mencekam bebatuan pada lahan tandus. Lama kelamaan terjadi reaksi kimia dan biologis akhirnya bebatuan pecah dan berangsur-angsur jadi bahan organik. Ditambah lagi dengan jatuhnya dedaunan dan ranting pohon. Siklus pengembalian unsur hara terjadi.

Dengan begitu lahan kritis tadi bisa dipergunakan untuk lahan pertanian tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Awalnya saja yang sulit untuk mengolahnya namun setelah dihutankan maka akan tumbuh ekosistem baru. Kedepannya pembangunan pertanian tidak perlu lagi pada lahan produktif. Biarkan lahan produktif untuk kawasan konservasi/daerah resapan air hujan. Bersamaan dengan itu terjadi penambahan lahan produktif. Air hujan benar bisa ditampung dalam tanah.

Kedua, pembangunan mall dan industri sebaiknya diarahkan pada lahan yang kritis. Jangan tambah industri pada lahan produktif. Perubahan juga bisa memanfaatkan lahan kritis. Akhirnya lahan kritis jadi pusat pembangunan. Tumbuh kehidupan pada daerah itu. Tumbuh juga roda ekonomi bagi masyarakat. Ketiga, pemeritah harus segera membuat rencana pengelolaan lahan kritis seluruh Indonesia. Akhirnya masyarakat Indonesia tidak terus mengusahakan lahan produktif untuk bertani.

Pembangunan juga makin luas pada lahan kritis. Daerah hijau makin luas dan pangan tercukupi. Masyarakat juga untung secara ekonomi karena mata pencaharian seperti bertani masih bisa dilakukan. Bencana banjir dan longsor dapat dikurangi sebab terjadi banjir karena alihfungsi lahan produktif ke pertanian yang tinggi. Terutama pada daerah sentra pangan tanah Air seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bbencana sering terjadi pada daerah ini.

Terakhir, adaptasi terhadap siklus Alam. Adapatasi dapat berupa gerakan perpindahan ke daerah yang aman bencana pada saat siklus alam sudah gawat. Alam semesta ini mempunyai siklus yang harus kita perhatikan. Kita sudah menetapkan musim penghujan dan musim kemarau pada bulan-bulan tertentu. Penanggalan pada bulan untuk menentukan musim hujan. Penanggan saat bertani. Penanggalan itu karena seringnya belajar dari pengalaman. Dikathuilah musim hujan datang pada bulan septermber sampai dengan habis bulan yang ber-bernya. Saat itu harus siap beradaptasi sehingga korban materi dan jiwa dapat diatasi.