76130913_asap-pabrikADA upaya menarik yang dilakukan Kepala SMPN 3 Citeureup Kabupaten Bogor Tri Pangestuti M.Pd. Perempuan asal Kota Malang ini bersama para gurunya bahu membahu menghijaukan lingkungan sekolah dengan giat melakukan penanaman pohon.

Semangat Tri dan para guru SMPN 3 Citeureup menghijaukan lingkungan sekolah ini lantaran mereka tak ingin para muridnya diserang aneka penyakit lantaran polusi pabrik. Maklum, sekolah ini berada di tengah-tengah himpitan pabrik.

Memang agak mengherankan, mengapa di lokasi SMPN 3 Citeureup ini belakangan berdiri banyak pabrik raksasa. Padahal, awalnya kawasan ini merupakan pesawahan dan pemukiman. Tampaknya dorongan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) membuat pemerintah daerah mengubah kawasan pesawahan dan pemukiman itu menjadi kawasan industri.

Tentu, tak ada kekuatan bagi seorang kepala sekolah untuk melawan kebijakan pemerintah daerah. Itu sebabnya, sejumlah kepala sekolah yang berada di kawasan pabrik ini tak pernah melakukan protes apalagi melakukan perlawanan. Mereka menerima keadaan itu dengan lapang dada dan penuh ketaatan.

Namun, fakta yang mereka saksikan sehari-hari adalah polusi pabrik yang kian parah. Udara di lingkungan tempat mereka mendidik generasi muda bangsa kian hari kian tercemar. Namun tak tampak ada upaya konkret dari pabrik-pabrik itu untuk mengatasi polusi udara yang dimuntahkan mesin produksi mereka.

Siapapun pendidik yang baik tentu tak akan membiarkan para anak dididiknya berada di lingkungan yang tidak sehat. Mereka tidak akan tega menyaksikan para muridnya terkena penyakit Ispa (impeksi saluran pernafasan atas) secara bergiliran akibat polusi pabrik.

Itu sebabnya, kepala SMPN 3 Citeureup bersama para guru dan muridnya melakukan gerakan menyelamatkan lingkungan sekolah dari polusi pabrik. Langkah konkret yang mereka lakukan adalah melakukan penanaman pohon di sepanjang koridor gerbang masuk sekolah. Pohon-pohon ini kelah akan menjadi penghalang antara pabrik dengan lingkungan sekolah.

Selain melakukan penanaman pohon di sepanjang jalan yang memisahkan sekolah dengan pabrik, mereka juga melakukan penanaman pohon di seluruh sudut ruang kosong yang ada di lingkungan sekolah tersbut.

Bahkan bagian belakang gedung sekolah yang juga berbatasan dengan pabrik mereka rencanakan akan ditanami bambu. Mengapa bambu? Menurut para ahli, tanaman bambu menghasilkan oksigen jauh lebih baik dan mampu menyimpan cadangan air jauh lebih besar. Bambu juga menjadi biopori alami yang luar biasa.

Langkah Kepala SMPN 3 Citeureup ini patut kita dukung dan mestinya menjadi inspirasi bagi para kepala sekolah lain yang berada di kawasan industri. Kita tak perlu menunggu uluran tangan para pemilik pabrik untuk melakukan gerakan penyelamatan sekolah dari polusi pabrik. Namun demikian, mestinya para pemilik pabrik juga ikut mengambil tanggungjawab atas penyelamatan lingkungan sekolah dari ancaman polusi industri.