bahagia newOleh: Bahagia Sedang S3 IPB dan Dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

Bencana banjir yang melanda Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat menyisakan duka bagi kita semua. Bencana ini bukti bahwa pemerintah daerah dan lembaga pemerintah harus bekerja secara optimal. Bencana ini tidak luput karena hujan dan musim kering yang sulit untuk prediksi. Hujan deras bisa kapan saja datang sehingga masyarakat tidak siap berhadapan dengan bencana.

Seberapa canggihpun alat-alat kebencanaan dan alat prediksi iklim tidaklah berguna kalau tidak dilakukan perbaikan Lingkungan baik lingkungan sosial (Manusia) dan ekologis. Alat-alat deteksi iklim sudah canggih seperti yang dimiliki oleh BMKG, Lapan dan institusi pemerintah lain namun faktanya kita terus terkena bencana.

Kejadian itupun tidak satu atau dua kali lagi. Berkali-kali dan bahkan beratus kali Jawa Barat dan wilayah lain di Indonesia terkena bencana. Kondisi ekologis harus diperbaiki sehingga seberapa deraspun hujan tidak akan jadi musibah bagi manusia. Terlebih jika kondisi daerah itu kawasan pegunungan dan perbukitan. Sebagian besar kondisi Jawa barat daerahnya berbukit dan bergunung-gunung.

Tipe topografi ini rawan terkena longsor dan banjir. Kondisi topografi tadi diperparah oleh kerusakan ekologis pada lingkungan sekitar. Daerah pegunungan beralihfungsi pada lahan pertanian dan perumahan penduduk. Secara langsung membuat minimnya vegetasi hijauan pada kawasan berbukit dan bergunung. Saat hujan datang, tanah mudah bergerak kemudian longsor dan banjir sampai kepada daerah yang dibawahnya.

Peran vegetasi secara ekologis dapat menahan erosi tanah sehingga memperkecil kemungkinan longsoran tanah. Air hujan juga dihambat kalau vegetasi masih cukup. Saat lahan dengan topografi bergunung beralih fungsi maka air hujan tidak lagi bisa masuk ke tanah karena lubang pori-pori tanah tertutup. Padahal lubang biopori tanah turut mempercepat masuknya air hujan ke tanah sehingga memperkecil air yang terdampar pada daratan.

Lubang biopori itu tertutup saat tingginya penggaraman pada lahan pertanian. Ditambah lagi dengan tingginya penggunaan pestisida sehingga biota tanah jadi mati dan punah. Fungsi dari cacing tanah untuk menambah banyak lubang biopori secara alami dialam. Makin sedikit dan tertutup lubang biopori membuat air hujan tidak bisa masuk. Bersamaan dengan itu, penebangan hutan juga mempengaruhi.

Pori-pori yang terbentuk karena akar akan menyimpan banyak air hujan. Makin besar akar maka makin besar pori tanah yang terbentuk. Makin besar pohon makin besar daya serapnya terhadap air hujan. Tentu secara langsung akan memperkecil kemungkinan bencana banjir. Pembalakan liar oleh penduduk selama ini tidak luput karena kebutuhan ekonomi. Masyarakat tidak akan menebang hutan untuk dijual sehingga dapat uang.

Lahan pertanian juga tidak akan diperluas jika masyarakat cukup secara ekonomi. Akhirnya kerusakan kawasan hutan dihulu akan memperbanyak hanyutan unsur hara tanah bagian atas. Terbawa ke hilir dan menumpuk disungai. Makin lama lebar dan kedalaman sungai makin berkurang sementara endapan lumpur dari aliran permukaan tak berhenti. Dengan begitu rumah penduduk akan banjir lumpur dan banjir air.

Rumah akan tertutup oleh lumpur. Selain itu, bencana akan diperparah dengan pembangunan rumah dipinggir sungai dan tidak berfungsinya sungai secara optimal. Pengelolaan sungai harus dilakukan mulai dari hulu sungai sampai dengan hilir. Pembangunan rumahpun harus diperhatikan. Pembangunan rumah pada pinggiran kaki gunung akan menekan tanah sehingga tanah mudah longsor. Demikin pula dengan rumah penduduk yang berada dipinggiran sungai akan menutup ruang resapan air.

Air yang harusnya masuk kedalam tanah namun harus masuk penuh ke sungai. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, menyelesaikan bencana dengan cara terintegratif. Maksudnya, lakukan perbaikan secara sosial, ekologis dan ekonomi. Akar masalah karena masyarakat secara ekologis tidak paham fungsi dari masing-masing ekologis. Penyuluhan ekologis harus dilakukan untuk menumbuhkan perilaku agar ramah terhadap alam.

Penyuluhan ini bisa dilakukan melalui penyuluhan pertanian. Berikan arahan kepada warga dampak buruk mengusahakan lahan pegunungan. Kedua, badan lingkungan hidup dan badan penanggulangan bencana harus optimal untuk memetakan daerah prioritas bencana. Daerah prioritas bencana berdasarkan kerusakan ekologis pada daerah itu. Petakan juga daerah mana yang daerah topografi yang berbahay terkena bencana.

Dengan begitu kita akan tau untuk memberikan arahan kepada warga untuk segera mengungsi karena bencana sudah dekat. Ketiga, kerjasama antar lebaga pemerintah yang menangani lingkungan harus optimal. Kita punya badan penanggulangan bencana yang melakukan aksi terhadap bencana namun selalu saya tidak bisa optimal. Kita juga mempunyai badan perediksi iklim atau BMKG namun tetap saja hujan tadi tidak bisa diprediksi kapan datang.

Kerjasama yang baik antar lembaga akan memperkecil kemungkinan terjadi bencana. Keempat, lakukan kajian ekologis dengan baik. Kajian ekologis mengukur tanah seberapa rentan tanah daerah pegunungan yang padat penduduk. Dengan begitu akan diketahui seberapa luas daerah yang rentan bencana. Kalau sudah diketahui maka dengan mudah melakukan sosialisasi bencana kepada warga.

Warga akan sadar bencana dan berantisipasi. Keempat, perbaikan secara ekologis. Optimalkan konservasi pada kawasan perbukitan, sungai dan taman serta halaman rumah warga. Tanamlah tumbuhan dengan perakaran kuat dan dalam pada lahan gunung yang telah gundul. Lakukan juga penanaman itu pada kawasan pinggiran sungai. Jangan lupa hijaukan juga kawasan halaman rumah. Setidaknya ditanami dua atau tiga pohon buah-buahan.

Semua cara ini dapat mengurangi bencana ekologis seperti banjir. Kelima, penumbuhan karakter ekologis. Karakter ekologis manusia tidak bisa tumbuh kalau tidak diberikan sentuhan. Akhlak ekologis ditumbuhkan melalui sekolah-sekolah sehingga mulai kecilpun orang tadi sudah tumbuh perilaku ramah lingkungan. Pendidikan akhlak juga harus rutin dilakukan pada warga. Lembaga penyuluha pertanian harus sampai kepada penyuluhan dan kemudian monitoring perilakunya.

Apakah sudah terjadi perubahan perilaku atau tidak. Terakhir, tumbuhkan mata pencaharian perdesaan. Mulai kini pemerintah sebaiknya memetakan potensi apa yang bisa dikembangkan dengan tidak merusak lingkungan. Kita tidak bisa menyelamatkan lingkungan kalau masyarakat tidak mandiri secara ekonomi. Bencana kemungkinan juga bisa terjadi pada daerah lain bergantung kepada tinggi atau rendahnya kerusakan ekologis. Tentu wilayah Indonesia sangat rawan bencana ekologis.