141230-smoking-cigarette-mn-1300_4f8fb05ea1449949f932ba2a3c3508e1-nbcnews-ux-2880-1000Alfian Mujani

[email protected]

Penyakit retinopati memang tidak masuk dalam daftar penyakit yang mematikan. Penyakit ini tidak mengancam jiwa, namun retinopati dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Risiko penyakit ini utamanya lebih tinggi terjadi pada beberapa kondisi tertentu.

Retinopati diabetik merupakan kelainan retina yang dapat terjadi pada hampir semua pasien yang telah lama mengidap diabetes melitus.

Faktor risiko yang perlu diperhatikan dari retinopati diabetik adalah lamanya seseorang telah mengidap diabetes. Menurut dokter spesialis mata RS Mata AINI Jakarta, dr Rumita S. Kadarisman, SpM, makin lama seseorang mengidap diabetes, maka makin besar kemungkinan ia mengidap retinopati.

Kemudian juga hiperglikemia atau gula darah tinggi. Ingat, patokannya bukan lagi kadar gula darah puasa atau gula darah sewaktu, tapi ukur kadar HbA1c. Makin tinggi kadarnya, makin tinggi juga risiko retinopatinya,” tutur dr Rumita dalam acara diskusi media ‘Diabetik Makular Edema: Si Pencuri Penglihatan dan Beban Hidup’ di Hotel The Hermitage, Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Kadar HbA1c dijelaskan oleh dr Rumita sebagai kadar gula darah yang menggambarkan kondisi seseorang selama tiga bulan terakhir. Dari pengukuran tersebut bisa dilihat, jika angkanya tinggi kemungkinan besar gula darah orang tersebut naik dan turun selama tiga bulan terakhir.

“Hipertensi juga. Orang diabetes dengan hipertensi harus kontrol tekanan darahnya dengan baik. Begitu juga dengan kadar lemak dan kolesterol. Makin tinggi bisa meningkatkan risiko retinopati,” imbuhnya.