Bahagia-Foto

Oleh: Bahagia, SP,. MSc. Penulis sedang Studi Doktor IPB (S3) dan Dosen Tetap Universitas Ibnu Khaldun Bogor

Apakah kita sudah berpikir? kalau sudah, kita memikirkan apa? kalau kita sudah yakin maka apa yang kita yakini? kalau kita sudah mempunyai ilmu seperti apa ilmu tadi kita gunakan? lantas siapa yang padam mata hati, tertutup telinga dan menutup mata. Lantas siapa yang tak beirman tadi? Manusia disuruh untuk menghuni bumi sebagai pemimpinan/khalifah dibumi untuk memakmurkan semua ekosistem yang terbentang pada bentang lahan.

Sekian banyak ekosistem tadi haruslah dirawat fungsinya. Ekosistem tadi juga harus dijaga fungsinya. Ekosistem kita akhirnya rusak parah mulai dari ekosistem gunung, ekosistem dibentang dataran rendah sampai dengan ekosistem yang ada dilautan. Kita sudah tau ekosistem sungai. Nampak disana kerusakan berat. Kalau kita pergi ke hutan maka sulitlah kita menemukan banyak pohon. Dengan begitu sudah dipastikan ekosistem hutan sulit untuk diselamatkan.

Ekosistem laut juga bermasalah maka banjir dari laut ke daratan tak bisa dihindarkan. Ditambah lagi dengan banjir dari pegunungan. Itulah kerusakan terparah bagi manusia yang tak beriman. Semoga kita manusia yang berminan tadi. Kalau kita kembali lagi dengan makna pembangunan berkelanjutan. Setidaknya ada tiga hal yang harus menjadi point penting. Lagi-lagi keseimbangan yang harus kita capai. Human dimension sebagai pusat pelaku pembangunan maka pembangunan haruslah menyelesaikan masalah sosial.

Ekonomi-ekonomi kerakyatan harus ditumbuhkan dengan memanfaatkan kondisi Existing dari sumberdaya alam. Kedua bagian tadi akan setop pada saat pelaksanaan pembangunan tidak pro ekosistem. Hingga kini pincang dan parsial yang dilakukan sehingga pembangunan selalu disertai dengan kerusakan parah ekosistem. Keseimbangan dalam membangun sama sekali belum terwujud. Ekonomi dikejar demi kepentingan hidup didunia dan melupakan kehidupan ekologis yang harus ditata.

Lingkungan sosialpun jadi bermasalah. Bencana tidak henti-hentinya. Mengapa demikian terjadi? selama ini pembangunan yang dilakukan manusia. Terlepas pembangunan perumahan, perkebunan sawit, dan jenis pembangunan apapun selalu menyingkirkan ekologis. Penyelamatan ekologis masih setengah hati. Beranggapan ada dan tidak hewan sebagai penghuni bumi selain manusia.

Semua hewan tadi punya hak dan porsi khusus yang sama dengan manusia. Kerap kali hak dan porsi hewan direbut demi kepentingan pembangunan. Tersingkirlah hewan dari bumi dan pembangunan. Hewan dan semua makhluk dianggap tidak mempunyai peran dialam semesta. Masing-masing hewan mempunyai peran untuk menjaga keseimbangan alam. Hilangnya peran setiap hewan maka perannya juga hilang dari bumi.

Terjadi ketidakseimbangan karena peran yang tergeserkan pada semua komponen belum bisa digantikan oleh makhluk yang lain. Mungkin kita berpikir seperti apa peran masing-masing dari hewan membuat keseimbangan? Kita ambil contoh rayap, rayap mempunyai peran yang vital dialam semesta. Mengubah komponen kasar dari kayu-kayu menjadi serbuk. Kemudian akhirnya jadi tanah. Hasilnya bisa ditanami oleh manusia. Rayap tadi juga berbahaya bagi manusia jika bangunan manusia dihuni oleh rayap.

Kemampuan rayap tadi tidak mudah digantikan dengan hewan lain yang punya kemampuan yang sama. Manusia sebagai pemakmur bumi haruslah pasrah kepada Tuhan dengan cara memohonkan ampun atas bencana ekologis. Bencana yang datang silih berganti akibat manusia tidak mengelola bumi dengan baik. Manusia tidak menata ruang ekosistem dengan baik. Bagian-bagian ekosistem sudah sangat teratur dan peran masing-masing sudah tergariskan untuk semua komponen tadi.

Kehadiran manusia sebagai pengelola harus bisa memikirkan semua fungsi dari bagian ekosistem. Akal harus tajam dalam analisis bagaimana fungsi dari semua ekosistem agar tercapai keseimbangan. Saat akal manusia tidak bisa memikirkan maka akal tidak bisa menerawang apa peran dari masing-masing komponen. Apalagi tidak ada percobaan untuk membuktikan. Mengapa dan untuk apa diciptakan. Manusia akan bisa mengupas tuntas ekologis menjadi bagian pembangunan kalau akal dan pengetahuan berfungsi dengan baik.

Saat akal tidak berfungsi berarti jarang sekali berpikir untuk memikirkan alam semesta ini. Kita disuruh untuk berpikir. Apa yang kita pikirkan, kita memikirkan kejadian hujan. Siklus hujan itu yang seperti itu. Kita harusnya berpikir. Hujan tidak jadi banjir kalau keadaan seimbang. Seimbang hujan yang turun dengan hujan yang masuk kedalam tanah. Seimbang dengan konsumsi manusia dan semua makhluk hidup. Seimbang juga dengan penguapan. Kita harus memikirkan itu.

Kita gagal memikirkan itu karena terjadi kelebihan air yang kemudian jadi bencana. Dengan begitu apakah kita sudah berpikir?. Selain berpikir kita juga harus membaca semua bagian-bagian ekosistem. Satu persatu bagian-bagian kita baca. Tanah ini jenisnya apa. Untuk apa peruntukannya, kalau tanahnya liat apakah cocok untuk pertanian atau tidak. Lantas jenis tanah apa yang mudah menyerap air. Kalau ada hama, kenapa hama tadi ada pada lahan. Apakah kita sudah membaca ekosistem tadi?.

Terbentang ekosistem telah Allah ciptakan dari gunung hingga lautan. Sebagian lagi diatas daratan dan lautan. Segitu jauhnya bagian ekosistem tadi yang harus dibaca oleh manusia. Kita belum bisa mambaca dengan baik. Akal dan banyaknya memca kerusakan belumlah cukup untuk menyelamatkan ekosistem kita. Kita harus mempunyai ilmu pengetahuan dan harusnya tumbuhlah ilmu bersama dengan banyaknya membaca tadi. Tanpa ilmu kita tidak akan bisa untuk meneliti sejauh dan sedamnya isi lautan.

Percuma kita mengatur rencana dalam pencapaian negara namun kita tidak punya ilmu untuk mengelola ekosistem tadi. Hanya bangsa peminta-minta teknologi dan inovasi dari negeri lain. Negeri ini termasuk salah satunya. Orang-orangnya terlalu sombong kalau sudah punya ilmu sedikit saja. Taunya hanya mengklaim kalau peradaban barat miliknya. Mungkin itulah wujud jadi manusia yang sangat kalah. Frustasi, akhirnya kata-kata mengklaim dan lagi-lagi mengklaim tadi yang bisa ia lakukan.

Buktinya kita belum bisa membuat inovasi seperti pesawat tanpa awak. Kita suruh dia memotret-motret sekitar kawasan hutan sehingga tau siapa yang membakar hutan. Dimanakah kita yang mengaku sudah berilmu ini? tenyata belum banyak yang berilmu. Sama halnya dengan inovasi dalam pertanian. Kita tidak bisa membuat inovasi sehingga lahan yang sempit tetap bisa produksi optimal. Sama halnya dengan kerusakan ekologis kini, manusia bingung mengatasi longsor dan banjir serta kekeringan.

Semua tadi karena lemahnya ilmu pengetahuan. Ditambah lagi dengan kemunculkan penyakit karena ekoslogis akibat kerusakan. Tanpa ilmu kita tidak bisa membuat keseimbangan kembali. Kita juga tidak bisa mempertahankan keseimbangan dalam ekosistem. Tanpa ilmu kita tidak bisa mengetahui kapan terjadi hujan. Kapan terjadi musim kemarau, kapan terjadi musim peceklik karena hama. Ilmu pengetahuan yang canggih, akal yang hebat dan selalu berpikir tidakla cukup kalau keyakinan tadi tidak diasah.

Bersama dengan keyakinan. Keyakinan disini berserah diri kepada tuhan.  Tau kalau Allah melihatnya berbuat kerusakan. Jika manusia sudah sedemikian takutnya maka ia akan jadi mansusia yang seimbang. Membentuk kesadaran ekologis sehingga terbentuk perilaku ramah ekologis. Dengan demikian siapa orang-orang yang tidak berpikir, tidak berkeyakinan, tidak membaca dan tidak berilmu tadi. Bagian-bagian penting psikologis manusia tadi tidaklah cukup kalau mata untuk melihat tidak berfungi.

Telinga untuk mendengar tidak berfungsi. Akal mati dan ulu hati akan mati. Gerakan hati bersama dengan pendengaran dan penglihatan. Kalau matanya ditutup maka telinganya masih mendengar. Ulu hati yang berwarna merah tadi berfungsi. Kalau telinganya yang ditutup maka hati masih bergerak. Namun kalau mata dan pendengaran telah tertutup maka tamatlah riwayat pembangunan berkelanjutan tadi. Bagaimanapun bencana ekologis datang berganti-ganti tetap saja orang itu berpikir parsial.

Mata dan pendengarkan kalau sudah tertutup maka begitu beratlah kerusakan iman manusia. Kita mendengar manusia banyak tertimbun karena longsor namun setiap tahun terus terjadi longrsor. Kita juga melihat banyak mayat yang tertimbun longsor namun setiap tahun tetap saja ada kerusakan tadi. Dengan demikian banyak orang yang mengaku beriman namun kalau kerusakan ekosistem parah maka kita sudah tau iman apa yang ada dalam dirinya.

Sekian banyak yang mengaku Allah sebagai Tuhannya namun kalau kerusakan ekosistem tadi bertambah banyak maka kita tau seperti apa orang tadi. Dapat kita simpulkan bahwa semakin jauh kita mencari akar masalah kerusakan ekosistem semakin tau bahwa kadar iman manusia makin minus. Makin nampak kerusakan maka makin jelas pengakuan atas beriman selama ini termasuk iman palsu. Membaca ayat-ayat suci hanya menjadi penghafal palsu. Berpikirpunpun menjadi palsu. Agama hanya sebagai topeng baginya biar nampak seperti manusia yang beriman.

Gawat sekali kondisi kita kini. Untuk itu, kita perlu membuat rekayasa sosial ekologis. Manusia diikutkan dalam penyuluhan akhlak ekologis. Penyuluhan ini mengukur sejauh mana kesadaran, pengetahuan, sikap dan perilakunya terhadap ekologis. Materinya terkait dengan fungsi masing-masing ekologis. Tambahkan juga dampak kerusakanya. Setelah diberikan materi maka kita bisa tau kadar kesadaran seseorang setelah dibuatkan semacam pretes.

Semacam kuisioner yang dibuat beberapa perlakuan. Perlakuan satu dan bahkan sampai sekian perlakukan. Dari yang ikut training akhlak ekologis tadi maka seberapa banyak yang sudah standar kadar keimannya. Jika sudah diketahui maka kita tau berapa orang lagi yang harus diberikan penyuluhan. Penyuluhan itu tidak cukup sekali saja. Lakukan berulang-ulang sampai orang tadi mau berpikir ekologis. Kalau tetap tidak dilakukan hal ini maka kita akan menunggu bencana ekologis yang lebih parah.

Gerakan ini harus sudah dimulai oleh badan-badan lingkungan hidup. Selanjutnya lakukan monitoring apakah orang tadi sudah berpikir ekologis atau belum. Kalau belum lakukan lagi hingga berpikir ekologis. Semakin sering dipaksa maka semakin terbiasa. Semakin tak dipaksa maka semakin tak pernah menjadi biasa. Selanjutnya putarkan film-film hewan yang tangannya puntung. Hutan yang terbakar. Manusia yang meninggal dunia karena banjir. Setelah diputarkan maka lakukan lagi pretes. Cocokkan dengan perangainya kini. Apakah ia sudah berpikir seperti itu.

Terakhir, petugas RT/RW yang berani mengemban tugas. Kepala desa dan camat harus dibuatkan semacam Touring. Touring disini bukan pergi ke tempat-tempat indah. Buatkan program ini kepada mereka. Bawa mereka ke tempat paling kotor dijabotabek. Kumpulkan juga pendakwah-pendakwah agama. Ia selalu bicara iman dan iman maka bawa ia ke tempat paling kotor seperti tempat akhir pembuangan sampah. Selanjutnya monitoring apa yang dilakukannya. Jika ia melakukan maka berikan reward yang setimpal untuknya. Apalagi kalau ada inovasi yang ia hasilkan. Disitu baru ia tau tidak mudah bicara ekologis apalagi bukan ahlinya. Gerakan seperti ini dimulai dari lingkungan masyarakat pada lingkung yang terendah. Mislkan beberapa lingkungan RT kemudian dibeirkan materi pada balai desa.