

JAKARTA, TODAY—Kenaikan harga bahan pangan biasa terjadi menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2016. Namun, pemerintah menjamin bisa mengendalikan kenaikan harga tersebut.
“Kenapa setiap hari raya harga naik, harga sayur harga barang tertentu, karena tiba-tiba semua orang ingin makan daging, makan ayam, otomatis yang begitu tiba-tiba dia naik harga,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla alias JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Utara, Jumat (23/12/2016).
Menurut JK, anggap saja kenaikan harga ini jadi hadiah tahun baru buat para pedagang. Pada hari biasa kadang para pedagang ini hanya mendapat untung kecil.
“Kalau semua orang dapat hadiah tahun baru, ya pedagang sayur, pedagang ayam dapat hadiah tahun baru lah, ya itu pemerataan juga sebenarnya. Dari itu sementara biasanya setelah itu turun,” kata JK.
“Masalah ini selalu seperti itu sama seperti saat Lebaran kenapa daging naik, kenapa ayam naik, karena tiba-tiba orang makan opor banyak dalam satu hari. Nah Natal juga begitu, apalagi Liburan banyak, mungkin orang tidak kerja jadi itu sebabnya. Tapi, nanti akan turun kan,” ujarnya.
Sementara, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjamin harga dan ketersediaan bahan pokok tetap stabil jelang pergantian tahun 2016. Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan pihaknya telah menugaskan para Pejabat Eselon I Kemendag turun Iangsung ke beberapa daerah memantau perkembangan harga, kondisi distribusi, dan ketersediaan pasokan barang kebutuhan pokok.
“Hasil pantauan menunjukkan perkembangan harga barang kebutuhan pokok menjelang tahun baru di daerah umumnya relatif stabil. Ketersediaan pasokan di distributor cukup dan aman serta kondisi distribusi di pelabuhan berjalan lancar,” ujar Enggar dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (23/12/2016).
Sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, bawang merah, cabai, daging sapi, daging ayam, dan minyak goreng menjadi perhatian.
Di Bogor, harga bahan pangan seperti cabai merah keriting, cabai merah besar, dan bawang merah, per 22 Desember 2016 terpantau turun dibandingkan minggu lalu. Namun, di beberapa daerah, masih ada kenaikan bahan pokok seperti daging ayam ras, dan telur ayam ras. Berikut daftar harga-harga bahan pokok di berbagai daerah per tanggal 22 Desember 2016, seperti diolah dari data Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag.
Cabai Merah Keriting
- Medan terpantau turun 28,5% menjadi Rp 42.670/kg
Semarang turun 27% menjadi Rp 36.800/kg.
3. Manokwari turun 23,5% menjadi Rp 32.500/kg
4. Palembang turun 16,7% menjadi Rp 62.500/kg
5. Ambon turun 12,2% menjadi Rp 24.000/kg
6. DKI Jakarta turun 8,6% menjadi Rp 52.730/kg
7. Bandung turun 8% menjadi Rp 58.000/kg
Cabai Merah Besar - Manokwari turun 23,5% menjadi Rp 32.500/kg
2. Ambon turun 15,5% menjadi Rp 50.670/kg
3. DKI Jakarta turun 8,9% menjadi Rp 50.190/kg
4. Palembang turun 7,7% menjadi Rp 60.000/kg
5. Bandung turun 4,1% menjadi Rp55.600/kg
6. Semarang turun 3,7% menjadi Rp 36.600/kg.
Bawang Merah - Medan turun 11,6% menjadi Rp 28.000/kg
2. Manado turun 10,6% menjadi Rp 45.150/kg
3. Palembang turun 7,2% menjadi Rp 38.670/kg
4. Bandung turun 4,4% menjadi Rp 43.000/kg
Daging Ayam
- Palembang naik 7,1% menjadi Rp 30.000/kg
2. Manado naik 3.7% menjadi Rp 27.800/kg, 3. Bandung naik 3,1% menjadi Rp 33.000/kg.
Telur Ayam Ras - Semarang naik 10% menjadi Rp 22.000/kg
2. Palembang naik 9,19% menjadi Rp 20.330/kg
3. Bandung naik 9,61% menjadi Rp 21.600/kg
4. Ambon naik 7,8% menjadi Rp 29.100/kg.
Cabai Rawit Merah - Ambon naik 53,4% menjadi Rp 37.330/kg
2. Manado naik 36,7% menjadi Rp 38.950/kg
3. Semarang naik 23% menjadi Rp 68.400/kg
4. DKI Jakarta naik 22,6% menjadi Rp76.360/kg
5. Jayapura naik 11,1% menjadi Rp 66.670/kg.
Berbeda dengan 2015, harga daging sapi, khususnya daging sapi segar pada tahun ini bisa dibilang jauh lebih stabil. Harga daging sapi segar hingga pengujung 2016 ini masih stabil di kisaran Rp 100.000/kg. Namun demikian, harga daging sapi yang stabil juga diikuti dengan kenaikan impor daging sapi beku maupun sapi bakalan hidup di 2016.
“Di 2016 ini (daging sapi) memang stabil di harga Rp 100.000/kg, rasio kecukupan (stok daging) ini ada, tapi impornya itu naik,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, di acara Review Kebijakan Peternakan 2016, di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta, Jumat (23/12/2016).
Diungkapkan Sasmito, untuk daging sapi beku sendiri, ada kenaikan impor dalam beberapa bulan terakhir di tahun ini. “Di 2016 impornya sejak bulan Mei selalu di atas tahun-tahun sebelumnya, baik 2014 maupun 2015. Bulan November saja (impor) daging sapi sudah hampir 18.000 ton, Oktober sekitar 14.000 ton. Kita lihat trennya kok terus naik,” kata Sasmito.
Dia melanjutkan, berbeda dengan kondisi daging sapi, daging ayam justru semakin menunjukkan tren harga yang semakin baik meski tanpa impor. “Kalau daging ayam ini tidak ada masalah. Volatilitas juga semakin kecil, semakin konstan, dan harganya semakin menurun,” pungkas Sasmito.
Untuk menekan harga daging sapi segar di dalam negeri, pemerintah menugasi Perum Bulog untuk mengimpor daging kerbau dari India. Daging kerbau impor sendiri mulai masuk secara bertahap sejak September 2016 lalu.
Direktur Operasi dan Pelayanan Publik Bulog, Tri Wahyudi, mengatakan dari 100.000 izin impor yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan, hingga saat ini pihaknya sudah mendatangkan sekitar 50.000 ton daging dari India. “Kita ditugaskan untuk upaya menurunkan harga daging sapi di Rp 80.000/kg sebelum Lebaran kemarin. Dalam Rakortas kita ditugasi impor 100.000 ton daging dari India, 50.000 ton dilanjutkan di 2017,” kata Tri ditemui di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta, Jumat (23/12/2016).
Menurut dia, Bulog akan melanjutkan sisa kuota impor sebesar 50.000 ton di 2017. Soal banyaknya keluhan masyarakat kesulitan mencari daging kerbau di pasar, menurutnya, pasokan daging memang masih terbatas sehingga tak semua pasar bisa dipasok daging kerbau impor.
“Sekarang posisi baru masuk sampai Desember 50.000 ton, sisanya di 2017. Kalau kami dengan Kemendag sendiri untuk distribusi selalu pasang spanduk, di sini jual daging kerbau India,” jelas Tri.
Soal berapa untung yang diperoleh Bulog dari penugasan mengimpor daging kerbau, Tri enggan mengungkapkan. “Saya kira penugasan pemerintah harus dilaksanakan. Untung rugi nanti di depan saja,” pungkas Tri.(Yuska Apitya)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















