bahagia-fotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Lahir disebuh desa di Kabupaten Kampar Riau. Karyanya telah terbit secara lokal dan Nasional. Kini Dia dipercaya menjadi dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor-Jawa Barat
Tiba-tiba Andi datang ke rumah. Tidak biasanya Andi begini pikirku. Biasanya kalau pergi sekolah. Pastilah aku yang duluan datang ke rumahnya. Dia ingian lebih pagi berangkat sekolah denganku katanya. Sedikit aneh saja dalam alam sadarku. Dalam perjalanan ke sekolah dia banyak cerita.
“Dia katanya ingin bertemu dengan seseorang?”
“Siapa itu kataku?”, “Dia tidak menjawab”.
“Dia bilang lagi kalau aku harus rajin sekolah dan menggapai cita-cita. Makin aneh dalam alam sadarku. Kataku, bukankah engkau yang selalu dapat rangking satu. Aku Cuma dapat rangking dua. Pastilah engkau yang sukses meraih cita-cita.
“Tidak katanya”. “Sambil dia pegang tanganku”.
“Engkau katanya”. “Aku diam dan kami sudah sampai di sekolah”.
Setelah itirahat jam pertama, aku melihat tidak lagi ada Andi dalam kelas. Rupanya dia pulang sebelum waktunya. “Sungguh aneh pikirku”. Hari itu rupanya hari terakhi aku bertemu dengan Andi. Kejadian bermula dari pembangunan rumah mewah di samping kampung kami. Anak-anak dikampung kami memang senang sekali permainan tradisonal.
Sebelum perumahan mewah itu dibangun. Aku dan Andi serta tiga temanku selalu bermaian di ruangan hijau itu. Bagi kami tanah itu sebagai lapangan bola. Kami bermain disana. Melepaskan rindu ke alam bebas. Apapun tidak ada yang menghalangi kami lantaran ruang itu sangat luas. Andi kerap kali mengajakku bermain patuk lele bersama pada lapangan bola itu.
Si Udin satu lagi teman kami yang juga gemar bermain bersama kami. Wiwik teman perempuan kami juga ikut bermain dengan kami. Sungguh ramai saat sudah sore hari kawasan itu. Kami juga selalu menghabiskan waktu pada lapangan bola itu saat pagi hari. Terutama saat libur sekolah tiba. Seakan-akan kami tidak pernah lelah.
Bermain patuk lele dan bermaian bola. Wiwik kadang pergi menangis kalau kami sedang bermain bola karena dia perempuan. Suasana makin berubah saat satu persatu rumah dibangun pada tanah lapang. Memang tanah lapang itu suda dijual ke juragan perumahan. Makin hari makin banyak yang mesan rumah pada tanah lapang yang sudah terjual.
Hampir setiap hari nampak pembangunan rumah. Begitu ada pesanan maka rumah mewah langsung dibangunkan. Sebelum rumah-rumah itu terbangun, kami masih bisa bermain kesana. Makin lama makin sempit tempat kami bermain. Setelah rumah terbangun dan belum berpenghuni. Satpam sudah mulai tegas untuk melarang kami. Spanduk ditempel didepan gerbang. Tertulis larangan bagi kami agar tidak bermain didaerah itu lagi.
Pagar tinggi dan beton kemudian dibangun oleh kontraktor. Tinggalah kami tidak lagi bisa bermain ke tempat itu lagi. Tinggalah kampung kami jadi kampung kumuh. Kami tidak lagi bisa bermain lagi seperti dulu. Kadang kami menikmati air kotor dari limbah yang mereka buang. Ayah kami juga sulit untuk pergi ke sawah lantaran sudah terhalang oleh rumah mewah. Ayah harus mutar dua kali lipat dari dinding-dinding beton yang tinggi.
Kadang aku sungguh sedih bila ibu menyuruhku untuk mengantar nasi untuk ayah. Aku tau aku harus menanggung malu lewat dari pinggir dinding rumah mewah. Orang-orang melihatku dari atas loteng rumah mereka. Kadang aku tidak sanggup mencium aroma berbau busuk dari selokan mereka. Aku melihat langsung air hitam mengalir dan menuju ke arah sawah ayah. Tega sekali orang perumahan ini pikirku waktu itu.
Apakah mereka langsung jadi orang kaya raya sehingga tidak peduli dengan nasib kami. Ah, sudahlah pikirku. Sedikitpun tidak ada guna aku mengeluh. Mereka juga tidak tau apa keluhanku. Sebagai anak petani, aku kadang iri dengan anak-anak orang kaya itu. Baju mereka selalu berganti menjadi baru. Bajuku kadang lesuh dan tidak berganti. Meskipun bersih namun tidak pernah berganti baru.
Ayah lebih parah lagi. Dari tiga tahun yang lalu tidak pernah ganti baju baru. Akhirnya aku iyakan apa yang dikatakan ibu yaitu mengantar nasi kepada ayah disawah. Seperti biasa, aku mengunjungi Andi seorang sahabat kecilku. Kami selalu bersama ke sawah untuk mengantar nasi ayah setelah pulang sekolah. Aku kemudian datang ke rumah Andi. Aku melihat rumah andi terkunci rapat. Setelah tiga kali aku ucapkan salam.
Aku kemudian langsung pergi sendirian ke sawah. Setelah sampai di sawah. Aku hanya menemui ayah di sawah. Semua persawahan sepi. Aku heran dengan ayah. Biasanya ayah langsung bertanya tentang kabarku dan langsung bertanya ibu masak apa?. Mengapa ayah jadi begini pikirku? Apa yang sudah terjadi. Hanya aku diam. Sambil aku salami dia dan aku cium tangan dan kedua belah pipinya.
Dia bilang kalau aku anak yang baik. Katanya lagi, aku harus jadi Ir Pertanian. Sungguh sedih hatiku ketika itu. Bagaimana mungkin pikirku sedangkan ayah hanya punya 2000 meter sawah. Buat makan kami saja kadang kurang. Aku yang masih duduk dibangku SD saja harus nyari tambahan jadi tukang ojek payung untuk dapat uang jajan.
Meskipun demikian, “aku iyakan saja cita-cita ayah itu”. Ayah langsung menuntut tanganku melalui galengan sawah kami. Sampai akhirnya kami di sebuah pondok terbuat dari bilik bambu. Ayah membuka masakan ibu dari rumah. Dia bilang, Ibuku orangnya cantik dan baik. Mengerti dengan kondisi ayah yang masih miskin. Kata ayah, banyak orang yang mau menikahi ibuku dulu.
Ntah kenapa malah ayah yang menang dalam kompetsisi itu. Aku tatap ayah dengan senang. Sambel teri tadi habis dimakan semua oleh ayah. Lalapan daun pepaya dan timun juga sudah habis. Aku merasakan kehangatan kasih sayang ayah hari itu. Kami berdua duduk disebuh pondok itu. Menatap sawah kami. Menikmati hembusan angin yang sedikit kencang.
Ayah memegang tanganku. Dia ingin bercerita tentang beberapa hal. Ntah kenapa dia lepaskan lagi. Kemudian ayolah ayah kataku. Ceritakan saja kalau ada yang mau engkau ceritakan kataku. Akhirnya ayah bercerita.
“Kata ayah, “Andi dalam keadaan kritis dirumah sakit?”
“apa kataku?”. Seperti aku tidak yakin.
“Kata Ayah, dia tidak menjenguk Andi karena harus menjaga kebun cabai ayah Andi. Maklumlah kalau musim cabai sedang mahal. Banyak maling di kampung kami”.
“Ayah, kenapa andi masuk rumah sakit?”
“Dia ditabrak mobil saat disuruh ibunya untuk mengantar nasi ke sawah. Dia tidak lewat jalan dari dinding rumah mewah. Dia lewat jalan raya. Kemudian dijalan dia ketemu dengan Wiwik dan Iwan. Mereka tidak sadar kalau itu jalan raya bukan tempat bermain. Mereka lupa kalau itu bukan tanah lapang.
Mereka bermain patuk lele dan kejar-kejaran sambil pergi ke sawah. Kemudian dari arah berlawahanan, Andi tidak sadar kalau di telah berada ditengah jalan. Mobil angkutan itu akhirnya menabrak Andi. Dia tersungkur dan ditutupi daun karena dikira sudah meninggal dunia. Wiwik berteriak kemudian datanglah orang-orang. Rupanya masih ada yang berani dan membawa Andi ke rumah sakit.
Masuk ruang ICU dan ayahnya dipanggil kesana. “Ayah, kataku, aku dendam dengan orang perumahan ayah, aku sakit hati! Gara-gara mereka membangun rumah temanku jadi korban. Tempat bermain kami sudah tidak ada lagi. Aku sedih ayah. Sambil aku peluk ayah berkali-kali. Rasa sedihku bertambah hari itu. Aku ingat Andi sahabat kecilku. Aku ingat Wiwik.
“Kata Ayah, “engkau tidak boleh bersedih. Begitulah hidup, maka jadilah engkau Ir Pertanian. Engkau rubah pola pembangunan tanah air kita. Bangun Indonesia ini. Berpihaklah engkau kepada petani. Jangan engkau berpihak kepada mafia tanah.
“Aku berjanji untukmu ayah”,
“Bagus kata ayah”. Sekarang aku antar engkau pulang. Kemudian kalian jenguk Andi. Ibumu belum tau apa yang terjadi. Kami dan ibu kemudian langsung menuju rumah sakit umum. Setelah kami sampai disana. Suster bilang kalau Andi sudah pulang. “Maksudnya apa kataku sambil teriak?”
“Ibu langsung memegang mulutku agar aku tidak berteriak. Bukan main sedihnya aku hari itu. Baru tadi pagi kami bertemu. Pagi itu pagi yang terakhir kami bertemu dengan Andi. Ibu kemudian bergegas untuk datang ke rumah Andi. Sudah banyak orang nangis dan histeris disana. Aku melihat sendiri Ibu Andi bangun kemudian pingsan lagi.
Ayahnya juga sama. Berkali-kali orang memberikan nasehat padanya. Ayahnya Andi langsung memelukku saat aku datang. Dia bilang engkau harus lanjutkan cita-cita Andi ya. Kalian masih kecil. Kalian masih duduk dibangku SD Kelas lima. Titip perjuangan Andi. Akhirnya aku ikut menangis saat membuka muka Andi yang sudah terbalut kain putih. Ibunya Andi memeluk ibuku. Semua histeris, tidak satu orangpun yang bisa menenangkan hati ayah dan ibunya Andi.
Pak RT jono juga bingung bukan main. Akhirnya pak RT Pergi ke sawah untuk menyuruh ayah ke rumah Andi. Ayah datang dan memberikan nasehat kepada ayahnya Andi. Akhirnya dia bisa ikhlas. Petang hari itu juga tempat peristirahatan terakhir andi digali. Setelah Andi istirahat disana. Semua pulang dan tahlilan. Semua orang tidak lagi menjaga sawah malam itu. Ikut berduka. Esok harinya ayah pergi lagi ke sawah.
Dia lihat cabai ayahnya Andi sudah habis diambil maling. Buah cabai yang kecil dan pentil cabai yang tertinggal. Ayah tidak bisa bilang apapun lagi. Dia diam sambil menarik nafas panjang. Sambil aku dengar perkataan ayah, “hindarkan kami dari cobaan ya Allah”. Ayah menyimpan cerita itu sampai dengan satu minggu. Setelah satu minggu ayahnya Andi pergi ke sawah. Dia menangis melihat pokok cabainya.
Dia hitung mengapa sedikit sekali hasil panen cabainya. Ayah memberi taunya. Makin menangis lagi dia hari itu. Ayahku membawa ayahnya Andi ke pondok bambu. Dia berikan lagi nasehat. Salah satu nasehat ayah yang aku dengar. Kita tidak tau rencana Allah dan rezeki dari Allah. Rezeki dari Alllah bisa datang tidak terduga. Rupanya kejadian meninggalnya Andi terdengar oleh salah satu juragan emas yang tinggal diperumahan.
Dia datang ke sawah saat Ayah Andi menangis. Langsung dia bawa Ayah Andi dan ayah. Katanya, kalian buka rekening hari ini.
“Buat apa kata ayah, kalian telah mebunuh saudara kami?”
“orang itu diam, aku ingin membantu kalian!”
‘Ayah masih diam dan kesal, kemudian dia turut juga apa maunya orang itu”. Setelah sampai di bank.
Langsung disi oleh ayah formulir bank dan ayahnya Andi juga. Setelah dibuatt rekening. Orang itu masuk ke atm. Langsung mentransfer banyak sekali uang. Dia kemudian pergi. Setelah dicek oleh ayah. Sungguh terkejut ayah waktu itu. Telah masuk uang sebanyak 700 juta. Ayah Andi juga sama. Ayah Andi langsung menghemat dana itu untuk sekolah adiknya Andi. Sedangkan ayah ingin menyekolahkanku sampai jadi Ir Pertanian.
Kata ayah kepada ayah Andi. Beginilah kalau jadi orang yang sabar. Kemudian mereka mendatangi dan mencari orang itu. Rupanya orang itu telah menjual rumahnya dan satu orangpun tidak tau kemana orang itu pindah karena masih sama-sama jadi orang baru.