Oleh: Bahagia, SP., MSc. Alumnus Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM dan Sedang Mengikuti Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB serta dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor
Luas lahan kritis di propinsi Jawa Barat mengalami peningkatan. Tercatat  luas lahan kritis pada tahun (2006) sekitar 160382 Hektar kemudian meningkat menjadi menjadi 483945 Hektar pada tahun (2012). Peningkatan lahan kritis juga terjadi di propinsi Jawa Tengah. Lahan kritis pada tahun (2011) sekitar 2757785,34 Hektar kemudian meningkat lagi menjadi  3086996,22 Hektar pada  tahun (2013).
Pertambahan luas lahan kritis pada propinsi Jawa Barat menjadi ancaman bagi pembangunan pertanian karena menyempitnya lahan produktif. Sementara propinsi Jawa Tengah dan propinsi Jawa Barat termasuk lumbung padi nasional. Sebagian besar beras dihasilkan pada daerah ini untuk mendukung stok beras pada daerah lain diseluruh Indonesia.
Perluasan lahan kritis juga rawan terjadi diseluruh Indonesia dapat dilihat dari seringnya terjadi bencana ekologis pada tanah air. Lahan dikatakan menjadi kritis karena tidak lagi produktif dan tidak layak untuk ditanami tanaman pertanian. Kalau masih bisa ditanami tetapi produksi makin rendah dan membutuhkan pemupukan yang cukup tinggi.
Indikator lahan kritis dapat dilihat dari seringnya terjadi bencana ekologis pada suatu bidang lahan. Lahan yang sering tergenang dapat dikatakan lahan kritis karena fungsi tanah untuk menyerap air makin berkurang. Sementara kandungan unsur hara alam tanah terus mengalami penurunan akibat sering terjadi erosi akibat aliran permukaan. Tanah jangka panjang menjadi kering saat musim penghujan. Miskin unsur hara dan minim aktivitas mikroorganisime tanah.
Selain karena bencana, lahan kritis juga disebabkan oleh batuan induk pembentuk tanah.Misalkan bebatuan keras yang belum mengalami pelapukan sempurna. Akhirnya lahan itu tidak berfungsi secara ekologis baik untuk menyimpan air dan fungsi untuk pertanian. Sementara kebanyakan lahan kritis makin luas karena kondisi perubahan iklim dan perilaku tidak ramah lingkungan.
Kawasan perdesaan dan perkotaan sangat minim dari ruang hijau, konservasi tanah, konservasi sungai, dan penyuluhan ekologis. Ruang hijau di perdesaan memang harus diperhatikan. Dari sinilah nantinya tanah yang tadinya mati jadi produktif kembali. Semua karena masih tersedianya makanan bagi hewan dalam tanah. Hasilnya dapat memperbaiki kesuburan tanah dan memperbanyak lubang biopori tanah.
Saat hujan datang maka maka air hujan mudah terserap dan masuk kedalam tanah. Jalan yang paling terbaik untuk ini melakukan konservasi secara biotik. Memperbanyak penanaman pohon pada ruang yang tersisa dan tanah yang tidak produktif. Meskipun tanah yang kritis tadi tidak langsung jadi produktif sebab butuh waktu untuk mengembalikan komponen biotik dan a-biotik pada tanah sehingga eksosistem terbangun kembali.
Konservasi juga dapat dimulai dari kawasan hulu, tengah, dan hilir sungai. Dari sini sumber penyebab tanah jadi kritis karena unsur hara tanah tercuci setiap kali musim penghujan dan banjir. Perlu dilakukan konservasi pada kawasan hulu sungai, tengah dan kawasan hilir sungai. Lakukan gerakan penghijauan pada pinggir sungai dari hulu hingga hilir. Perilaku ini dapat mengurangi lahan jadi kritis karena lahan berkurang mengalami kebaniran.
Bahkan memperluas lahan yang produktif dan mempertahankan luasan lahan. Dapat juga mengurangi banjir dan erosi tanah yang nanti membuat tanah jadi miskin unsur hara. Selanjutnya lakukan penyuluhan ekologis dengan cara rakayasa sosial. Rekayasa sosial ini dapat dilakukan dengan melakukan penyuluhan pada balai desa tentang penyebab lahan jadi kritis.
Kemudian buat perbandingan antara yang masyarakat yang diberi penyuluhan ekologis dan yang tidak. Masyarakat yang terbukti belum paham penyebab lahan kritis maka perlu dilakukan penyuluhan kembali. Setelah pengetahuan mereka standar selanjutnya lakukan pemmberdayaan. Terutama bagi mereka yang dekat dengan lahan kritis. Lahan ini jika dikonservasi dengan cara dihijaukan kembali maka masyarakat harus dapat keuntungan.
Partisipasi mereka dalam pembangunan turut merawat kawasan hijau itu. Tentu butuh memberikan pemahaman kepada mereka terutama manfaat lahan itu jika sudah produktif. Mereka harus dapat jaminan untuk memanfaatkan kembali lahan dan pemerintah sebaiknya mencarikan alternatif pekerjaan bagi mereka. Terlebih mereka yang menjadi petani untuk memanfaatkan lahan kritis.
Selama ini pengolahan instensif lahan untuk pertanian juga penyebab lahan jadi kritis. Makin sering ditanami maka makin banyak unsur hara yang hilang karena terserap tumbuhan. Ditambah lagi dengan pemupukan organik yang masih minim. Selain lahan dialihkan, pemerintah juga bisa menghimbau mereka untuk menggunakan pupuk organik dan menghubungkan dengan peternak. Pemerintah sebagai pendukung dan fasilitator untuk pengadaaan pupuk kandang.
Jadi lahan bisa juga tidak usah dihijaukan tetapi lakukan pemupukan organik. Terutama bagi lahan yang belum rusak berat. Berbeda dengan lahan yang sudah kritis berat apalagi lahan yang batuan besar dan minim pelapukan. Perlu dilakukan penghijauan secara total. Lahan itu juga sebaiknya tidak dimanfaatkan dulu. Kedepannya lahan kritis yang diolah dengan baik dapat sebagai alternatif lahan untuk pengembangan pertanian.
Selama ini lahan pertanian terutama lahan sawah sangat terancam. Lahan sawah terbukti tidak bisa dilindungi agar tidak dikonversi dan beralihfungsi setiap tahun. Tahun (2012) luas sawah sekitar 2685777 Hektar kemudian menurun tahun (2013) menjadi 2441835 Hektar. Selama dua tahun terakhir pulau Jawa telah kehilangan luas lahan sawah sekitar 243942 Hektar.
Kehilangan lahan sawah tadi perlu perluasan dan mencetak ladang serta sawah baru. Tujuannya untuk menambah luasan sawah dalam rangka menggantikan lahan sawah yang hilang. Perluasan lahan dari lahan kritis dapat mendongkarak luasan lahan pertanian. Luas lahan kritis di Propinsi Jawa Barat sekitar 483945 dapat menghasilkan produksi padi sekitar 2419725 ton gabah-3387615 ton.
Sedangkan lahan kritis yang berada di Jawa tengah dijadikan lahan padi maka produksi padi sekitar  15434980-21608972 ton. Asumsi tersebut atas dasar produksi gabah padi per hektar sawah berkisar 5-7 ton gabah padi. Potensi lahan kritis ini sebaiknya menjadi perhatian pemerintah sebab pengelolaan lahan kritis dapat menjadi lahan pertanian apabila fungsi ekosistem sudah berfungsi. Tentu butuh waktu terutama bagi lahan yang sangat kritis