Mahasiswa FKIP UNIDA Bogor, Berinovasi Optimalkan Kearifan Lokal

“Kami mendapatkan beberapa kendala dalam pembuatan Putu Mayang yaitu, proses penyerutan, karena alat yang digunakan masih tradisional berupa parudan kayu yang harus ekstra mengeluarkan tenaga, belum lagi tekstur dari singkong pun licin. Tapi inilah tantangannya demi membuat kue tradisional yang banyak peminatnya,” tuturnya.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Siapkan Mural Bergambar Pahlawan Nasional di Jalur Jayanti–Bojong Koneng

Adapun untuk proses  dari penjemuran hingga penggilangan pun membutuhkan waktu sekitar satu hari apabila cuaca panas.  Akan tetapi,  penjemuran akan lama jika musim hujan.

Untuk varian rasa sendiri wulan dan lilis memilih rasa pedas, original, pedas manis dan  jagung. Inovasi ini bertujuan untuk mengangkat kembali makanan tradisonal dengan berbagai varian rasa yang baru.

BACA JUGA :  Rekomendasi Primer untuk Kulit Berminyak agar Makeup Tahan Lama dan Tidak Mudah Luntur

“ Harapannya semoga masyarakat bisa lebih bangga dengan makanan tradisional dan masyarakatnya lebih kreatif dalam mengelola makanan dari bahan dasar singkong,” tutup Lilis. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================