
“Dari 98 KK itu sudah ada belasan rumah yang sudah mulai tinggal di sana sudah mulai membangun dengan apa adanya. Untuk listrik belum ada, masih narik atau ikut ke warga sekitar. Untuk lain-lainnya belum ada sama sekali, baik itu drainase, penerangan jalan umum (PJU), termasuk akses jalan,” ujar Mardiyanto.
Sebetulnya, lanjut Mardiyanto, untuk infrastruktur jalan saat ini sudah di bangun secara swadaya dan itu pun hanya di lokasi yang dianggap krusial untuk akses lalu lintas kendaraan, seperti pas masuk (gang) dan juga ditikungan yang sedikit menanjak.
“Terkait ketersediaan listrik ini sebetulnya saling berkaitan, kemarin Pak Ade (Ketua LPM Batutulis) dan teman-temannya sudah mengajukan PJU, dan sudah di setujui akan mendapat 17 tiang PJU yang akan dipasang dari jalan Rancamaya sampai tempat relokasi, tapi syaratnya yaitu di lokasi tersebut harus ada rumahnya dulu dan jumlahnya itu sekitar 60 rumah baru,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya pun akan terus melakukan pengawalan terhadap proses pembangunan rumah untuk warga terdampak double track ini, seperti halnya dari sisi penggeseran anggaran untuk Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di tahun 2022 mendatang.
“Setelah saya cek realisasi untuk 2021, tidak ada RTLH untuk warga yang terdampak di Batutulis itu, barangkali ini masuk di 2022, karena harapan masyarakat adalah ketika mendapat dana kerohiman sebagiannya itu bisa untuk beli lahan dan untuk bangun rumah, tapi kalau dua-duanya tidak akan cukup. Oleh karena itu, mereka sangat mengharapkan bantuan dari Pemkot Bogor agar RTLH ini diutamakan bagi mereka yang terdampak dan ini akan terus kita kawal,” tutupnya. (Heri)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















