BOGOR TODAY – Bantuan Sosial Pangan (BSP) atau progam Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) untuk masyarakat Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor yang tersalurkan beberapa waktu lalu diduga menyalahi aturan atau tak sesuai Pedoman Umum.

BSP yang disalurkan oleh komoditi agen Bank Mandiri Saefulloh e-Warong itu terdapat beberapa paket diluar Pedoman Umum, seperti kopi dan minyak goreng.

Baca Juga : Di Kota Bogor, Satu RW 13 Anak Stunting 

Kejadian ini pun dibenarkan Kapala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kasi Kesra) Desa Sukaresmi, Tajuddin. Ia mengatakan, penyaluran BSP yang dilakukan oleh agen Saefulloh memang selain beras dan telur didalamnya ada tambahan berupa kopi dan minyak goreng.

Namun, lanjut Tajuddin, adanya kopi dan minyak goreng itu karena dalam situasi terdesak atau atas dasar permintaan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang waktu itu meminta BSP segera disalurkan, sedangkan pihak agen mengaku barang-barang untuk BSP belum ready semua, hanya ada beras dan juga telur.

“Awalnya kan engga ada informasi penyaluran, tapi di lapangan para KPM ini mendapat informasi bahwa ada penyaluran BSP, sehingga mereka membludak datang ke sini untuk segera dicairkan. Sedangkan pihak agen mengaku belum ada barang dan para KPM meminta yang ada aja, akhirnya pihak agen pun terpaksa memberikan paket yang ada yaitu beras, telur, ditambah kopi dan minyak goreng,” ujar Tajuddin kepada Bogor Today.

Baca Juga : Sudah Direbut, Pasar  Tekum Belum Disertifikasi 

Ia juga menyebutkan paket yang berisikan beras, telur, kopi dan minyak goreng itu jumlahnya sekitar 50 paket. “Untuk jumlahnya kalau tidak salah ada sekitar 50 paket,” katanya.

Tajuddin pun mengaku apa yang dilakukan agen tersebut salah karena tidak sesuai Pedoman Umum BSP. Namun demikian, pihak desa juga tidak bisa menyalahi agen, sebab waktu itu pihak agen kondisinya memang belum siap, tapi di sisi lain para KPM mendesak untuk segera menyalurkan BSP dengan barang-barang yang ada, sehingga pihak agen terpaksa mengikuti permintaan KPM.

“Nah, waktu kejadian itu Pak Kades juga sempat kesal dan meminta untuk tidak mengulangi kejadian tersebut, bahkan sempat melontarkan kata-kata untuk membubarkan kerja sama dengan agen,” bebernya.

Baca Juga : Asal Muasal Boarding School Sampai di Indonesia 

Terpisah, Kasi Pemberdayaan Masyarakat (PM) Kecamatan Tamansari, Ayi Koswara menjelaskan, bahwa fungsi Tim Koordinasi Kecamatan dan Pendamping Program Sembako sudah berjalan dengan baik di wilayah. Namun Ia mengakui terkait Agen Bank Mandiri e-Warong Penyalur Program Sembako pihaknya hanya memiliki fungsi monitoring, sedangkan kewenangan penuh ada di pihak Bank Mandiri.

“Saya berharap pihak Himpunan Bank Negara (Himbara) dapat lebih optimal dalam memberikan pemahaman Prinsip Program Sembako kepada Agennya, sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, karena minimnya pengetahuan Agen Bank terkait Program ini,” ujarnya.

Baca Juga : Ujicoba Pembelajaran Tatap Muka Dipantau Dewan 

Baca Juga : Pasar Tekum Diambil Alih Pemkot Bogor, Pengelola Pasrah 

Peristiwa penyaluran BSP yang tidak sesuai Pedoman Umum BSP ini pun sudah diketahui oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor melalui Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Eni Irawati bersama Kasi Penanganan Fakir Miskin Djodi Anggoronadi saat melakukan monitoring dan evaluasi terhadap agen-agen yang ada di Kecamatan Tamansari pada Rabu (19/5) lalu. (Heri)