Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

ANNISA Pohan lewat cuitannya di Twitter, 22/6/2021, mengaku heran mengapa para buzzer Islamophobia itu mempermasalahkan film bernuansa Islam.Padahal, kata Annisa, para buzzer yang mengkritik film karya anak bangsa itu juga beragama Islam.

“Kenapa ya buzzer-buzzer itu islamophobia padahal dirinya juga Islam, film animasi berprestasi untuk anak-anak bernuansa islam dengan nilai-nilai positif aja jadi masalah untuk mereka,” cuit Annisa Pohan.

Baca Juga : HAKIMADIL MASUK SURGA, HAKIM DZALIM MASUK NERAKA

 

Banyak pihak mendesak pemerintah agar menertibkan para buzzer di medsos jika pemerintah ingin serius dikritik. Menurut Jubir Presiden Fadjroel Rachman menegaskan pemerintah tidak menggunakan buzzer. Pemerintah tidak punya buzzer.

Apa yang dikatakan Fadjroel, bertolak belakang dengan pengakuan pegiat medsos Denny Siregar. Dia mengaku sebagai buzzer mendukung Jokowi. Denny mengumpamakan mereka seperti lebah.

Menurut penulis apa yang dikatakan Denny Siregar juga kurang tepat, karena yang namanya lebah itu sifatnya seperti orang beriman dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Baca Juga : HRSHARUSNYA DIRANGKUL JANGAN “DIPUKUL”

1. Lebah itu makan hanya yang baik-baik saja (halal), sementara para buzzer ini memang gajinya halal, tapi kerjaan membuat sakit hati orang lain, karena sering menghina, menghujat bahkan memfitnah orang. Statusnya di medsos juga bannyak kontroversial yang menyebabkan perpecahan masyarakat Indonesia.

Baca Juga :  Kabar Duka, Mantan Ajudan Gus Dur Meninggal Dunia

2. Lebah itu sebagai obat (bermanfaat), boro-boro bermanfaat. Para buzzer ini tugasnya menyerang dengan bahasa yang kotor kepada siapa saja yang suka mengkritisi pemerintah.

Biasanya jika buzzer sudah terdesak kalah, maka para buzzer ini mencap oposisi dengan sebutan radikal, kadrun, teroris dan anti Pancasila dan NKRI Jika pemerintah salah, maka para buzzer ini akan membela mati-matian junjungannya.

Contoh KPK diperlemah dengan perubahan UU, para buzzer bilang pemerintah sudah sesuai dengan UU Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 30 tahun 2002 Tentang KPK.

Ya benar pemerintah sesuai dengan UU yang baru ini, tapi UU yang baru ini membatasi wewenang KPK, diantaranya harus adanya persetujuan Dewan Pengawas jika mau mengadakan OTT (Operasi Tangkap Tangan).

3. Lebah itu tidak merusak lingkungan (cinta dengan semua makhluk ciptaan Allah), sedang para buzzer ini kerjaannya berkelahi. Statusnya menyerang dan menghina agama dan ulama.

Contohnya, Abu Janda menilai, “Jangan ngomong terorisme tidak punya agama, terorisme punya agama, agamanya Islam, gurunya si Maher,” ujar Abu Janda di akun instagramnya.

Baca Juga :  2.500 Paket Pronik untuk Kampung Tematik Durian Rancamaya

Ini kan keterlaluan, tapi anehnya sudah berkali-kali Abu Janda dilaporkan ke polisi, tapi bebas dan aman-aman saja dia sampai sekarang. Jika orang lain yang melakukan, pasti sudah masuk hotel prodeo.

4. Lebah itu hidupnya berkelompok (berjamaah), tidak pernah itu para buzzer berjamaah mengadakan acara tabligh akbar, sholawatan, istighosah.

Perhatikan terjemahan dari Kitab Suci Al Qur’an ini: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.

Baca Juga : JANGANSEPELEKAN AMALAN “ECE-ECE”

 

Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (Q.S. Al Hujuraat: ayat 12).

Saatnya para buzzer ini untuk bertobat, capai dan tidak produktif melakukan pekerjaan seperti para buzzer ini. Jika tidak dihentikan para buzzer ini sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan NKRI. Jayalah Indonesiaku. (*)