BOGOR TODAY – Polresta Bogor Kota mengamankan sejumlah karyawan serta pemilik apotik lantaran kedapatan menjual obat antivirus diluar harga eceran tertinggi (HET).

Kapolresta Bogor Kota, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Susatyo Purnomo Condro menyebut pengungkapan kasus tersebut berawal dari adanya laporan dari masyarakat bahwa sulitnya mendapatkan obat-obatan di sejumlah apotek.

Baca Juga : Dampak PPKM Darurat, Rakyat Bisa Mati Kelaparan Bukan Karena Virus

“Selama dua hari ini kami melaksanakan penyelidikan terkait penjualan obat-obat antivirus, sebagaimana sudah diatur oleh pemerintah bahwa ada larangan untuk tidak menjualbelikan obat-obatan diluar harga eceran tertinggi (HET),” ujar Sustayo Jumat (16/7/2021).

Menurutnya, tidak seharusnya masa pandemi ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin mengambil keuntungan berlebihan dari penjualan obat-obatan antivirus.

Dengan demikian, dirinya melakukan penyelidikan terhadap distributor utama yaitu Indofarma serta menyisir sebanyak 24 apotek di Kota Bogor. Alhasil tiga apotik melanggar ketentuan pemerintah dengan menjual obat-obatan antivirus di atas harga eceran tertinggi.

Baca Juga :  Warga Depok Temukan Limbah Medis Jarum Suntik Tercecer

“Kami menemukan sebanyak 38 botol obat Ivermectim dan juga satu dus obat pavipiravir di apotek Medika Pahlawan. Harga normalnya obat Ivermectim dibandrol Rp150 ribu per botolnya, namun apotik ini menjualnya hingga dua kali lipat bahkan lebih,”terangnya.

Baca Juga : Produksi Senjata Api Rakitan, Warga Lampung Diringkus Polisi

Modus yang dilakukan, sambung Susatyo yang pertama mereka menjual diluar harga eceran tertinggi. Yang kedua, menjualnya secara online lalu yang ketiga menjual di wilayah Kota Bogor ini.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 14 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dengan bunyi barang siapa yang sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah dan diatur penanggulangan wabah itu meliputi
penyelidikan epidemilogis, pemeriksaan pengobatan, perawatan dan isolasi, pencegahan dan pengebalan pemusnahan penyebab penyakit dan penanganan jenazah akibat obat.

Baca Juga :  Kadin Kota Bogor Tebar Makanan Siap Saji untuk Warga Isoman

“Dalam hal ini ketiga apotek ini telah melanggar undang-undang tersebut dalam hal pengobatan dengan ancaman satu tahun kurungan penjara atau denda setinggi-tingginya Rp.1  juta,” tegasnya.

Dirinya meminta kepada masyarakat agar tidak segan -segan untuk melaporkan jika
mengetahui terdapat penjualan obat Covid 19 di atas harga normal terlebih penjualan melalui online termasuk tidak disertai resep dokter yang saat ini tengah menjadi pantauan dari satgas Covid-19 Kota Bogor.

“Dari tiga apotek tersebut kami mengamankan para karyawan untuk mendapatkan keterangan termasuk para pemilik dari toko obat ini,” tukasnya. (B. Supriyadi)