nyekar
Ilustrasi ziarah kubur atau nyekar. Foto : Istimewa.

BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Tradisi berziarah ke makam keluarga atau biasa disebut nyekar menjadi salah satu tradisi dan budaya masyarakat Indonesia menjelang bulan Ramadan. Maka tidak heran, berbagai tempat pemakaman umum dipenuhi warga yang berziarah.

Selain mendoakan keluarga mereka yang telah tiada, tradisi nyekar juga dimanfaatkan untuk merawat dan membersihkan makam.

Seperti yang terlihat di Kampung Pangradin, Desa Pangradin, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.

BACA JUGA :  Benarkah Sifat Anak Lebih Banyak Turun dari Ibu atau Ayah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kepala Desa (kades) Pangradin, Deny Setiabudi mengakui bahwa ziarah kubur kerap dilakukan menjelang puasa atau ramadan. Itu sudah dilakukan secara turun temurun.

“Selan ziarah juga sekaligus membersihkan area makam, dan ini juga biasanya tidak hanya menjelang ramadan saja, tapi ketika akan lebaran juga biasanya nyekar,” kata Deny.

Pada momentum seperti ini, sambung Deny selain sudah menjadi tradisi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar pemerintah dengan masyarakat.

BACA JUGA :  Nilai Anak Menurun? Ini Sikap yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua

“Bagi kita kegiatan seperti ini banyak positif nya, yang mana ini adalah bagian dari bentuk rasa syukur kita terhadap Tuhan, dan adab kita agar kita tidak melupakan purwadaksi (asal-usul,red) kita, terlebih sebagi pemerintahan desa  kan kita memang harus selalu ada di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya. (Didin/CR)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================