
Usulan Sandi pun diamini, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan. Proyek itu diprediksi menelan dana Rp 7,3 triliun.
Direktur Prasarana BPTJ Jumardi menyebut kajian itu dilakukan untuk mencari solusi mengurai kemacetan di kawasan Puncak, sehingga BPTJ merekomendasikan kombinasi kereta Automated Guideway Transit (AGT) dan kereta gantung.
Dari jumlah Rp 7,31 triliun, sambung Jumardi terbagi atas pembiayaan pembangunan kereta AGT sebesar Rp 6,32 triliun dan kereta gantung hampir Rp 1 triliun. Namun dengan anggaran sebesar itu, Jumardi menjelaskan belum termasuk pembebasan lahan, dengan perkirakan membutuhkan sekitar Rp 693 triliun.
Jumardi menerangkan, panjang lintasan kedua kereta tersebut mencapai 27,88 kilometer. Dengan 23,40 kilometer yang menghubungkan Sentul City-Taman Safari, serta 4,48 kilometer menghubungkan Taman Safari-Puncak.
“Keseluruhan panjang lintasan angkutan berbasis rel tersebut menurut hasil kajian adalah 27,88 km dengan terbagi dalam 2 segmen. Segmen I antara Sentul City-Taman Safari sepanjang 23,40 km menggunakan moda Kereta AGT. Sedangkan segmen II adalah antara Taman Safari-Puncak sepanjang 4,48 km di mana segmen ini baru menggunakan kereta gantung,” ujarnya, kepada wartawan, Senin (21/3/2020).
Namun, proyek itu masih memerlukan pendalaman. Terutama aspek pembiayaan, dampak sosial, dan koordinasi antarlembaga.
“Kelanjutan opsi pembangunan transportasi massal berbasis rel di Kawasan Puncak masih perlu proses pendalaman baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Aspek yang perlu perhatian mendalam selain besarnya kebutuhan pembiayaan juga penanganan permasalahan dampak sosial dan koordinasi antarkelembagaan,” tukasnya. (B. Supriyadi)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















