BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Global Adults Tobacco Survey (GATS) merilis jumlah perokok dewasa di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga 8,8 juta jiwa. Survei itu terhitung sejak 10 tahun terakhir.

Meski survei memperlihatkan adanya penurunan, namun jumlah perokok dewasa justru ditemukan meningkat. Sebanyak 60,3 juta perokok dewasa pada 2011, meningkat menjadi 69,1 juta perokok dewasa pada 2021.

Melansir cnnindonesia.com, Selasa (31/5/2022) Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan bahwa secara keseluruhan, negara Indonesia dalam 10 tahun terakhir memang mengalami penurunan jumlah perokok, tapi sayangnya untuk perokok dewasa terus meningkat.

“Dari data yang ditemukan, GATS menunjukan total jumlah perokok di Indonesia pada 2021 selama survei dilakukan sebanyak 70 juta atau 34,5 persen dari total keseluruhan penduduk. Rata-rata penduduk Indonesia yang merokok tembakau adalah laki-laki,” kata Santet seperti mengutip CNN Indonesia.

BACA JUGA :  Dede Chandra Dorong 4 SMA/SMK Negeri Baru di Kabupaten Bogor

Kata Dante, bukan cuma tembakau, sebanyak 6,3 juta pendudukan Indonesia juga menghisap rokok elektrik. Jumlah ini meningkat 10 kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, dari yang semula 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021.

Meski jumlah perokok dewasa ditemukan meningkat, namun survei juga menemukan adanya kelompok orang yang berniat untuk berhenti merokok. Sebanyak 63,4 persen mengaku punya keinginan untuk berhenti. Namun, hanya 43,8 persen di antaranya yang benar-benar melakukan upaya tersebut.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi saat menyampaikan hasil survei GATS Sebanyak 121,6 juta orang terpapar asap atau menjadi perokok pasif yang berasal dari rumah, dan 20,3 juta orang terpapar asap rokok di tempat kerja

BACA JUGA :  HJB Run 2026 Meriah! 200 Pelari Warnai Peresmian JPO Tegar Beriman di Kabupaten Bogor

Hasil survei juga menemukan, sebanyak 8 juta orang meninggal dunia karena penyakit yang diakibatkan oleh paparan asap rokok.

“Data ini juga menunjukkan, bahaya rokok tidak hanya berpengaruh pada mereka yang merokok aktif. Para perokok pasif juga mendapat risiko yang sama, lantaran keterpaparan asap rokok di sejumlah tempat tergolong tinggi,” ujar Maria.

Maria mencontohkan, seperti di transportasi umum sebanyak 40,5 persen, di restoran sebanyak 74,2 persen, di tempat kerja sebanyak 44,8 persen, di rumah sebanyak 59,3 persen, dan di fasilitas kesehatan sebanyak 14,2 persen.

“Berdasarkan data ini, diharapkan bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi dan menyusun rencana pengendalian konsumsi tembakau dengan tujuan utama melindungi kesehatan masyarakat, terutama generasi muda,” kata dia. (*)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================