
Ketika penyelidik FBI mewawancarai pramugari yang disandera selama pembajakan pesawat, mereka menyimpulkan bahwa ada 3 faktor yang diperlukan untuk mengembangkan stockholm syndrome, yaitu:
Situasi krisis harus berlangsung selama beberapa hari atau lebih.
Para penyandera harus tetap berhubungan dekat dengan para korban (korban tidak dapat ditempatkan di ruangan terpisah).
Para penyandera harus menunjukkan kebaikan kepada para korban atau setidaknya menahan diri untuk tidak menyakiti mereka.
Para peneliti dalam studi tersebut juga mengungkapkan bahwa sindrom ini dapat dikaitkan kembali dengan nenek moyang pemburu-pengumpul di masa lalu. Teori mereka adalah bahwa perempuan dalam masyarakat tersebut menghadapi risiko ditangkap oleh suku lain.
Nyawa mereka sering terancam, dan terkadang anak-anak mereka terbunuh. Mengembangkan ikatan dengan suku yang menahan mereka dapat memastikan kelangsungan hidup mereka.
Menariknya, bagaimanapun korban yang mengembangkan sindrom ini sering kali kemudian menolak untuk bekerja sama selama penyelidikan berikutnya atau selama persidangan hukum.
- Gejalanya Mirip PTSD

Orang dengan Stockholm syndrome sering melaporkan gejala yang mirip dengan gangguan stres pasca trauma atau PTSD. Gejalanya mungkin termasuk:
- Mudah terkejut.
- Ketidakpercayaan.
- Perasaan tidak nyata.
- Kilas balik.
- Ketidakmampuan untuk menikmati pengalaman yang sebelumnya menyenangkan.
- Mudah marah.
- Sering mimpi buruk.
- Sulit berkonsentrasi.
Pernah Ditemukan Kasus antara Atlet dan Pelatih
Stockholm syndrome sebagian besar digunakan untuk menggambarkan situasi penyanderaan atau penculikan. Namun, sebuah studi pada 2018 di jurnal Children Australia menunjukkan bahwa sindrom ini juga dapat ditemukan dalam olahraga.
Para peneliti menegaskan bahwa pelatih atletik yang kasar dapat mengorbankan atlet muda dengan cara yang menciptakan Stockholm syndrome.
Atlet mungkin tahan dengan pelecehan emosional dan tunduk pada latihan yang menyakitkan atau kondisi ekstrem, dengan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa pelatih mereka menginginkan yang terbaik untuk mereka.
Mereka mungkin juga bersimpati dengan kerja keras yang harus dilakukan pelatih mereka. Inilah yang membuat mereka akhirnya memaafkan perlakuan buruk dengan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa pelecehan itu adalah bentuk pelatihan yang baik. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















