Bank Indonesia mencatat peredaran uang yang diragukan keasliannya atau potensi uang palsu pada bulan Oktober 2022 naik 42 persen. (Foto: Bogor-today.com/Aditya)

BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Rupiah merupakan alat pembayaran yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai salah satu simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara.

Salah satu tantangan yang dihadapi Bank Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan uang Rupiah adalah peredaran Rupiah Palsu.

Pemalsuan Rupiah merupakan tindakan yang melanggar hukum, merugikan masyarakat, dan dapat menurunkan kepercayaan terhadap Rupiah.

Melansir Bisnis.com, Bank Indonesia mencatat peredaran uang yang diragukan keasliannya atau potensi uang palsu pada bulan Oktober 2022 naik 42 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 19.742 lembar.

Baca Juga :  Gelar Bimtek BOS, Sekda: APBD Disdik Kota Bogor Harus Diatas 20 Persen

Dalam laporan statistik sistem pembayaran dan infrastruktur (SPIP) pada periode yang sama di tahun 2021, uang yang diedarkan (UYD) diragukan keasliannya sebanyak 13.879 lembar.

Sementara jika dibandingkan dengan bulan lalu, peredaran uang yag diragukan juga tercatat mengalami peningkatan signifikan sebesar 79 persen. Dengan rincian, per bulan September 2022 uang yang diragukan sebanyak 11.011 lembar sementara pada Oktober 2022 tercatat 19.472 lembar.

Baca Juga :  Resep Bumbu Oles Ikan Bakar, Mudah Dibuat tapi Gurih dan Manis

Bank Indonesia menjelaskan bahwa upaya pemberantasan uang palsu masif dijalankan melalui badan pemberantasan rupiah palsu.

“Sesuai UU Mata Uang, Pemberantasan Rupiah Palsu dilakukan oleh Pemerintah melalui suatu badan yang mengoordinasikan pemberantasan Rupiah Palsu yaitu Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal),” tulis Bank Indonesia dikutip pada Kamis (17/11/2022).