BEM Se-Bogor
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Bogor menggelar aksi demonstrasi yang diberi judul "September Hitam: Proyek Istana Bikin Bencana” di depan Istana Bogor, Jumat (15/9/2023). Foto : Istimewa.

BOGOR-TODAY.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM Se-Bogor menggelar aksi unjuk rasa yang diberi judul “September Hitam: Proyek Istana Bikin Bencana” di depan Istana Bogor, Jumat (15/9/2023).

Dalam orasinya, Koordinator BEM Se-Bogor, Achmad Sobari, dengan tegas menyatakan bahwa aksi ini merupakan panggilan bagi semua elemen masyarakat dan mahasiswa untuk bersatu menyuarakan keadilan atas apa yang terjadi di Rempang.

“Kami berdiri di sini untuk mengatakan bahwa keadilan harus ditegakkan. Aksi warga Rempang adalah cerminan dari perjuangan melawan ketidakadilan dan kerusakan lingkungan. Kami, mahasiswa Se-Bogor, bersama-sama dengan masyarakat, akan terus mendukung mereka,” tegas Sobari.

Aksi demonstrasi ini juga diikuti oleh para aktivis lingkungan yang sudah lama berjuang menentang proyek istana yang diyakini bisa menimbulkan dampak ekologis yang serius di wilayah tersebut.

Selama aksi tersebut, peserta membawa spanduk yang berisikan tuntutan untuk mengutamakan kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan lingkungan.

BACA JUGA :  Mitsubishi Siapkan Generasi Baru Xpander, Masuk Daftar 13 Model yang Akan Diluncurkan Hingga 2030

Mereka juga mengkritik keras tindakan represif yang diterapkan terhadap warga Rempang yang brave (berani, red) berbicara.

BEM Se-Bogor akan terus memberikan dukungan kepada perjuangan warga Rempang. Semoga demonstrasi ini menjadi sumber semangat bagi semua segmen masyarakat untuk bersatu dalam menciptakan keadilan dan menjaga lingkungan agar lestari.

Diketahui, konflik di Pulau Rempang, Kepulauan Riau, berawal dari upaya merelokasi penduduk untuk memfasilitasi pengembangan investasi di wilayah tersebut menjadi pusat industri, perdagangan, dan pariwisata yang terintegrasi.

PT Makmur Elok Graha (MEG) menggarap proyek ini dengan harapan menarik investasi besar yang akan mengambil sekitar 45,89 persen dari luas total Pulau Rempang, yaitu 7.572 hektar dari total 16.500 hektar.

Sejumlah penduduk yang tinggal di Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru harus dipindahkan ke lahan yang telah disiapkan, dengan perkiraan jumlah penduduk antara 7.000 hingga 10.000 orang.

BACA JUGA :  Momen HJB ke-544, Museum Pajajaran Mulai Dibuka Resmi untuk Umum

Pertikaian bermula ketika pada tanggal 7 September, aparat dan penduduk terlibat dalam bentrokan. Aparat dikabarkan memasuki kawasan permukiman penduduk, sedangkan penduduk memilih untuk tetap bertahan dan menolak pemasangan patok lahan sebagai bagian dari proses relokasi.

Kemudian, pada tanggal 11 September, kerusuhan kembali terjadi ketika ribuan penduduk mendatangi kantor BP Batam di Kota Batam untuk menentang rencana relokasi dan menuntut pembebasan tujuh orang yang terlibat dalam aksi protes.

Meskipun ada penolakan dan bentrokan dengan aparat pada Kamis (7/9/2023) pekan sebelumnya, kepolisian tetap menjalankan rencana relokasi penduduk yang terpengaruh oleh PSN Rempang Eco-City. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================