
BOGOR-TODAY.COM – Tim arkeolog dari Universitas Wina baru-baru ini telah menemukan sejumlah guci besar di sekitar makam kuno di Mesir. Guci-guci tersebut merupakan wadah penyimpanan wine berusia 5.000 tahun yang telah terkubur dalam tanah selama zaman pemerintahan Ratu Meret-Neith, seperti yang disampaikan dalam laporan Science Alert.
Beberapa guci bahkan ditemukan masih tersegel. Saat ini, ratusan guci kuno ini sedang diselidiki dengan cermat dan detailnya dianalisis.
Setelah pengamatan lebih lanjut, para peneliti yakin bahwa guci-guci tanah liat yang berjejer itu berasal dari dinasti pertama suku Mesir Kuno yang terletak di Um al Qaab, Abydos, Sohag Governorate, Mesir. Abydos berlokasi sekitar 340 mil tenggara Kairo.
Temuan ini mendukung keyakinan para ahli bahwa Meret-Neith adalah firaun perempuan pertama di Mesir kuno. Selain harta karun makam yang masih ada di tempat pemakamannya, Meret-Neith adalah satu-satunya wanita yang memiliki makam monumentalnya sendiri di pemakaman kerajaan pertama di Abydos.
Meret-Neith hidup sekitar 5.000 tahun yang lalu dan mungkin menjabat sebagai ratu Mesir sekitar tahun 2950 SM, baik sebagai permaisuri maupun bupati.
Meskipun Meret-Neith dianggap sebagai firaun perempuan, para arkeolog tidak dapat menentukan peran dan posisinya dengan pasti. Firaun perempuan pertama yang dikenal memiliki gelar kerajaan penuh adalah Sobekneferu, sekitar satu milenium setelahnya.
Anggur kuno berusia 5.000 tahun tetap dalam kondisi yang sangat baik
Guci-guci yang berisi anggur tersebut telah terawetkan dengan baik, bahkan beberapa di antaranya masih berisi biji anggur kuno, seperti yang diungkapkan oleh para peneliti.
Selain wadah-wadah anggur, para peneliti juga menemukan prasasti yang menyebutkan bahwa Meret-Neith bertanggung jawab atas jabatan-jabatan penting, termasuk perbendaharaan kerajaan. Hal ini menambahkan bukti lebih lanjut tentang peran yang signifikan yang dimainkan oleh sang ratu.
Menurut para arkeolog, kompleks makam ini, yang dibangun dari bata lumpur, tanah liat, dan kayu yang belum dipanggang, juga mencakup 41 makam yang dimiliki oleh pelayan-pelayan ratu.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa makam-makam ini dibangun dalam beberapa tahap selama jangka waktu yang panjang, yang mencabut pandangan bahwa pengorbanan manusia adalah bagian dari upacara pemakaman kerajaan pada masa dinasti pertama Mesir kuno, seperti yang dijelaskan oleh universitas dalam pernyataannya. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














