PKH-BPNT Tak Mampu Atasi Kebutuhan Penyandang Disabilitas di Desa Leuwinutug

Penyandang Disabilitas di Kecamatan Citeureup
Salah Satu Penderita Penyandang Disabilitas di Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Selasa (7/1/2025). Rifki/bogortoday

BOGORTODAY.COM – Di tengah kehidupan Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, ada dua anak penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian lebih.

Marwan, seorang bocah berusia enam tahun, dan Enda yang kini berusia 15 tahun. Keduanya berjuang dengan kondisi yang memerlukan dukungan intensif, namun akses mereka terhadap bantuan dan fasilitas yang memadai masih sangat terbatas.

Fitria Susanti, Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Leuwinutug, menjelaskan meskipun ada upaya dari pemerintah pusat, melalui program Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), pihak desa merasa tak dapat memberikan banyak lebih dari itu.

PKH memberikan bantuan uang tunai, sementara BPNT memberikan bantuan sembako yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penyandang disabilitas di desa tersebut.

BACA JUGA :  Pemkab Bogor Perluas Desa Siaga TB, Percepat Target Eliminasi Tuberkulosis

“PKH bentuknya uang, kalau BPNT sembako. Harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik, sembakonya ada, uangnya juga ada,” ujar Fitria saat diwawancarai Selasa (7/1/2025).

Menurutnya, bantuan dari pemerintah pusat sudah cukup untuk membantu keluarga Marwan dan Enda, dan bahwa desa pun memiliki keterbatasan dalam menyediakan fasilitas lebih lanjut.

Namun, kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Mansur (55), orang tua Marwan, mengungkapkan meski pemerintah desa sudah melakukan pendataan terkait kebutuhan anaknya, bantuan yang dijanjikan belum juga terealisasi.

“Dari pihak desa sendiri belum ada. Khususnya dari desa, belum ada perhatian. Yang lainnya memang sudah, cuma pribadi saya belum ada untuk arah ke hal itu,” kata Mansur kecewa.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Kabupaten Bogor Pantau Penyaluran MBG di SDN Babakan Madang 03

Kisah Mansur ini semakin memperlihatkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Ia mengingat, ada pihak dari desa yang mendatangi rumahnya untuk mencatat kebutuhan sehari-hari Marwan, seperti susu dan popok, namun itu hanya berakhir pada proses pendataan semata. Tidak ada kelanjutan bantuan yang diberikan.

“Dulu ibu itu datang ke sini, tanya-tanya, susu pampers sehari berapa, tapi setelah itu nggak ada bantuan lagi,” ungkap Mansur.

Kekecewaan yang ia rasakan menjadi bukti nyata betapa terbatasnya dukungan yang diterima oleh penyandang disabilitas di desanya, meski bantuan sosial sudah tersedia. ***

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================