
Kejadian ini mendorong Samaragriwa untuk membagi wilayah kekuasaannya antara kedua putranya, yakni Samaratungga dan Balaputradewa. Samaratungga mendapat wilayah di Jawa (Medang), sementara Balaputradewa mendapat wilayah di Sumatera.
Sebelum menjadi raja di Medang, Samaratungga menjabat sebagai kepala daerah Garung dengan gelar Rakryan I Garung. Ketika ia naik tahta, ia bergelar Sri Maharaja Samaratungga.
Selama masa pemerintahannya, Samaratungga melaksanakan berbagai pembangunan penting, termasuk menikahkan putrinya, Pramodawardhani, dengan Mpu Manuku dari Wangsa Sanjaya. Pernikahan ini tercatat dalam Prasasti Munduan yang dikeluarkan pada tahun 807 Masehi.
Selain Candi Borobudur, Samaratungga juga dikenal membangun Candi Bhumisambhara, yang merupakan nama lain dari Candi Jinalaya.
Pembangunan candi ini dipercayakan kepada arsitek Gunadharma, dengan bantuan Kumarabacya dari Gandhadwipa (Bangalore) dan Visvawarman, seorang ahli ajaran Buddha Tantra Vajrayana dari Kashmir, India.
Kisah pendirian Candi Borobudur yang megah ini juga diperkuat oleh Prasasti Kulrak yang dikeluarkan pada tahun 784 Masehi.
Pembangunan Candi Borobudur sendiri merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah peradaban Indonesia, yang tidak hanya menunjukkan kecanggihan teknik konstruksi pada masa itu, tetapi juga mencerminkan kedalaman ajaran Buddha yang disampaikan melalui pahatan-pahatan yang menghiasi dinding-dindingnya.
Warisan Raja Samaratungga dan Dinasti Syailendra ini telah menjadi simbol kebesaran budaya dan spiritualitas Indonesia yang terus menginspirasi dunia.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















