
Imam Riyadi yang saat itu membela Persib Bandung, memulai kariernya dengan klub tersebut pada 1994. Selain dikenal sebagai pemain andalan Persib, Imam Riyadi juga menjadi bagian penting dalam Timnas Indonesia di Piala Tiger 1998.
Berkat ketenangannya dalam situasi tekanan tinggi, ia menjadi simbol dari mentalitas juara yang dimiliki oleh Timnas Indonesia dan Persib pada masa itu.
Namun, setelah masa kejayaan bersama Persib, Imam Riyadi memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kariernya di Bandung pada tahun 2000. Dia kemudian kembali ke kampung halamannya di Serang, Banten, untuk fokus pada karier sebagai pelatih sepak bola. Imam Riyadi juga sempat menahkodai beberapa tim lokal seperti Serang Jaya dan Falmel FC.
Sekarang, meskipun Persib Bandung menjadi tim pemuncak Liga 1 Indonesia dengan koleksi 57 poin dari 16 kemenangan, 9 laga imbang, dan hanya dua kali kalah, tak ada satu pun pemain dari Persib yang dipanggil untuk membela Timnas Indonesia.
Hal ini tentu menjadi perhatian, mengingat sejarah panjang Persib dalam menyumbang pemain-pemain terbaiknya ke Timnas, mulai dari Febri Hariyadi, Atep, hingga legenda seperti Imam Riyadi.
Imam Riyadi menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah besar Persib dan Timnas Indonesia. Ia akan selalu dikenang oleh suporter sepak bola tanah air, khususnya atas peranannya dalam gol penalti panenka yang mengantarkan Timnas Indonesia meraih peringkat ketiga di Piala Tiger 1998.
Dengan kepergian Imam Riyadi dari dunia lapangan hijau, kita dapat mengenang jasa-jasa legendarisnya, serta berharap agar sepak bola Indonesia terus berkembang dengan kontribusi pemain-pemain muda yang berbakat, seperti yang telah ditunjukkan oleh Imam Riyadi di masa lalu.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















