
Setelah Rasulullah SAW wafat, Nusaibah kembali menunjukkan komitmen dan keberaniannya dalam membela agama.
Saat muncul pemberontakan dari Musailamah al-Kadzab, ia meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk turut serta dalam Perang Yamamah.
Dalam pertempuran tersebut, ia mengalami penderitaan besar. Putranya, Habib bin Zaid, disiksa dan syahid secara tragis oleh Musailamah.
Namun Nusaibah tidak mundur. Bersama putranya yang lain, Abdullah, ia terus berjuang dan akhirnya turut ambil bagian dalam membunuh Musailamah, sang nabi palsu.
Nusaibah terluka parah dalam perang itu, namun tetap menjadi simbol kekuatan dan keteguhan seorang Muslimah sejati.
Julukan Singa Merah: Lambang Keberanian dan Darah Perjuangan
Dalam buku Ummi: Sang Ratu Bidadari Surga, disebutkan bahwa Nusaibah binti Ka’ab mendapat julukan “Singa Merah” (Hamraul Asad).
Gelar ini mencerminkan keberaniannya yang luar biasa di medan perang serta keberanian yang ia tunjukkan meski tubuhnya berlumuran darah.
Singa menggambarkan kegagahan, kekuatan, dan kepemimpinan; sedangkan warna merah melambangkan darah perjuangan, simbol dari pengorbanan dan keikhlasan yang ia berikan demi agama Allah SWT.
Warisan Teladan untuk Umat Islam
Kisah hidup Nusaibah binti Ka’ab adalah teladan abadi bagi setiap Muslim, khususnya perempuan. Ia menunjukkan bahwa keberanian, loyalitas, dan pengorbanan bukanlah milik satu gender semata.
Keimanannya tidak hanya tercermin dalam kata-kata, tapi juga melalui aksi nyata di medan yang penuh risiko.
Di tengah dunia yang terus berubah, semangat Nusaibah binti Ka’ab tetap relevan — mengajarkan umat Islam tentang pentingnya berdiri tegak membela kebenaran dan menjadikan perjuangan sebagai bagian dari ibadah.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















