Mengenal Sisi Lain R.A. Kartini: 8 Fakta Unik Sang Pelopor Emansipasi Wanita

Mengenal Sisi Lain R.A. Kartini: 8 Fakta Unik Sang Pelopor Emansipasi Wanita

BOGORTODAY.COM – Indonesia kembali memperingati Hari Kartini, momen penting untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini, tokoh nasional yang berjasa dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam akses pendidikan di era kolonial.

Kartini tak hanya dikenal karena keberaniannya menembus batas sosial perempuan di masanya, namun juga karena pemikiran dan semangatnya yang jauh melampaui zamannya.

Di balik citranya sebagai pelopor emansipasi, Kartini memiliki sisi-sisi unik yang jarang diketahui masyarakat.

Berikut 8 fakta unik tentang R.A. Kartini yang memperkaya kisah perjuangannya:

  1. Lahir dari Keluarga Bangsawan

Kartini lahir pada 21 April 1879 dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, adalah Bupati Jepara, sedangkan ibunya, M.A. Ngasirah, berasal dari kalangan rakyat biasa.

Dari garis keturunan ayahnya, keluarga ini bahkan ditelusuri hingga era Kerajaan Majapahit. Keluarga ini memiliki posisi penting di struktur pemerintahan kolonial (Pangreh Praja).

  1. Cerdas Sejak Bayi
BACA JUGA :  Ariana Grande Kecam Gedung Putih karena Gunakan Lagunya dalam Video Penangkapan Imigran

Sejak kecil, Kartini menunjukkan perkembangan motorik dan intelektual yang pesat. Di usia 8 bulan, ia sudah bisa berjalan sendiri.

Ia tumbuh sebagai anak yang aktif dan penuh rasa ingin tahu, hingga dijuluki sebagai panutan oleh adik-adiknya.

  1. Punya Julukan ‘Kuda Liar’

Kartini kecil dikenal sangat aktif dan ceria, sampai-sampai oleh keluarganya dijuluki “Trinil” (burung kecil yang lincah) dan bahkan “kuda kore” atau “kuda liar” karena sering melonjak-lonjak dan tertawa terbahak-bahak, perilaku yang dianggap tak sopan bagi anak perempuan di masa itu.

  1. Supel dan Ceria di Sekolah

Kartini mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS), sekolah elite Belanda untuk anak bangsawan.

BACA JUGA :  Warkop Rasa Coffee Shop Hadir di Dramaga, Menu Mulai Rp 5.000

Ia dikenal luwes, cepat bergaul, dan periang di sekolah—berbeda dengan kehidupan di rumah yang penuh aturan. Di sinilah ia mulai mengasah kemampuan berbahasa Belanda dan mulai mengenal dunia luar melalui bacaan.

  1. Dipingit Selama 4 Tahun

Usai lulus dari ELS, Kartini berharap bisa melanjutkan pendidikan ke HBS di Semarang. Namun, karena adat Jawa, ia dipingit pada usia 12 tahun, menjalani masa isolasi selama empat tahun untuk dipersiapkan menjadi seorang putri bangsawan. Buku dan surat menyurat menjadi pelariannya untuk tetap belajar dan berpikir bebas.

  1. Menikah dengan Syarat Khusus

Kartini menikah pada 12 November 1903 dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang, sebagai istri keempat.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================