
Meski menentang poligami, Kartini menerima lamaran dengan syarat ia diizinkan mendirikan sekolah perempuan dan tidak menjalani adat yang menurutnya mengekang.
- Wafat Setelah Melahirkan
Tragis, Kartini wafat pada 17 September 1904, hanya empat hari setelah melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadiningrat. Ia meninggal di usia muda, 25 tahun, meninggalkan warisan pemikiran besar yang terus dikenang.
- Gagasannya Terbit di Belanda Lebih Dulu
Surat-surat Kartini yang penuh pemikiran maju dikumpulkan dan diterbitkan lebih dahulu di Belanda oleh J.H. Abendanon pada tahun 1911 dalam buku “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Buku itu kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Armijn Pane pada 1922 dan menjadi karya abadi yang dikenal luas.
Pemikiran Kartini melampaui zamannya. Semangatnya tak hanya bicara soal pendidikan, tapi juga soal keberanian untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan harkat perempuan.
Kini, Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk kesetaraan belum usai—dan bahwa suara perempuan, seperti Kartini, pantas didengar dan dihormati.
Selamat Hari Kartini! Semoga semangatmu terus hidup dalam generasi masa kini dan mendatang.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















