
“Perilaku Sunda itu ramah tamah. Binokasih adalah simbol kasih yang membina, bukan berperang. Filosofinya asah, asih, asuh—pemimpin harus turun ke bawah, edukasi rakyat secara langsung,” ucapnya.
Ediana juga menyayangkan anggapan yang menyebut leluhur Sunda sebagai masyarakat primitif.
“Peradaban Sunda sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Mereka bukan primitif, justru membangun etika dan adab lebih awal dari banyak bangsa lain. Sudah saatnya kita tata ulang budaya, hidupkan lagi silaturahmi dan rasa saling menghargai,” tuturnya.
Sementara itu, Radya Anom Keraton Sumedang Larang, selaku perwakilan resmi kerajaan, menegaskan bahwa kirab ini merupakan bagian dari upaya edukasi dan pelestarian sejarah Sunda.
“Mahkota ini bagi kami adalah nilai luhur yang mencerminkan peradaban. Sejarah Sunda di Bogor tidak boleh terputus. Kehadiran kami untuk memberikan khasanah budaya yang berkesinambungan,” ujarnya.
Radya Anom juga mengungkapkan bahwa Bupati Bogor saat ini, Rudy Susmanto, merupakan bagian dari trah Sumedang Larang, sehingga dipercaya mampu membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kepemimpinannya.
“Alhamdulillah, Kabupaten Bogor hari ini dipimpin oleh Bupati yang berasal dari trah Sumedang Larang. Maka dengan kesempatan ini, kami menitipkan spirit keagungan mahkota yang dikasihi sayang untuk digunakan dalam kepemimpinan beliau,” tutupnya.
Kirab Mahkota Binokasih bukan hanya menjadi tontonan budaya, melainkan juga ajakan untuk kembali mengenali jati diri. Di tengah derasnya arus globalisasi, kegiatan seperti ini menjadi napas segar bagi pelestarian nilai-nilai luhur Nusantara.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















