
Namun dalam beberapa tahun terakhir, tekanan lingkungan akibat pembukaan lahan dan perubahan iklim menyebabkan berkurangnya debit air serta meningkatnya risiko tanah longsor.
“Kami tidak ingin terlambat bertindak. Pelestarian ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu kami nanti. Menanam pohon berarti menanam harapan,” tambahnya.
Selain itu, kegiatan penanaman bambu ini juga diselingi dengan edukasi lingkungan kepada warga, terutama generasi muda, mengenai pentingnya menjaga hutan dan sumber air sebagai bagian dari ekosistem kehidupan.
Apih Ujang menyebutkan bahwa program ini tidak berhenti pada 1.000 pohon bambu saja. Kedepan, pemerintah desa berencana memperluas wilayah penghijauan dengan menambah ribuan bibit bambu dan tanaman keras lainnya di wilayah rawan longsor.
“Kami sedang berkoordinasi untuk mencari dukungan tambahan dari pemerintah daerah, agar program ini berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan semangat gotong royong dan kesadaran lingkungan yang tinggi, warga Desa Cileuksa berharap langkah kecil ini dapat memberikan dampak besar dalam menjaga keseimbangan alam dan ketahanan lingkungan desa mereka.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















