Polemik Dugaan Jual Beli Lahan PSU di Padurenan Makin Memanas, Warga Ancam Tunda Bayar PBB

Polemik Dugaan Jual Beli Lahan PSU di Padurenan Makin Memanas, Warga Ancam Tunda Bayar PBB

BOGORTODAY.COM – Konflik terkait dugaan praktik jual beli ilegal lahan Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) di Desa Padurenan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, terus memicu gejolak dan ketegangan antara warga, pedagang, dan aparatur pemerintah desa.

Ketidaktransparanan dalam pengelolaan lahan PSU yang kini dikuasai oleh pedagang liar menjadi sorotan tajam warga, bahkan memicu aksi pengunduran diri sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Kurniawan, salah satu anggota Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Padurenan, secara terbuka menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap kepala desa yang dianggap tidak serius menangani permasalahan lahan.

BACA JUGA :  Dede Chandra Dorong 4 SMA/SMK Negeri Baru di Kabupaten Bogor

“Saya kecewa dengan sikap kepala desa yang terkesan abai terhadap persoalan ini. Ada apa antara desa dengan para pedagang liar itu? Kenapa kepala desa seolah tak berdaya menghadapi mereka?” ujar Kurniawan yang akrab disapa Iwan.

Warga Perumahan Terdampak Lakukan Protes

Penolakan juga disuarakan oleh warga Perumahan Tamansari Bukit Damai, yang lahannya terdampak langsung oleh keberadaan para pedagang tanaman hias yang menduduki lahan PSU.

Lukman Azis dan Soekamto, dua tokoh masyarakat, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap aparatur desa.

“Kami merasa diabaikan. Jika masalah PSU ini tidak diselesaikan secara adil dan terbuka, kami sepakat menunda pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),” kata Lukman Azis, warga RT 002 RW 007.

BACA JUGA :  LPDP Buka Beasiswa Co-Funding 2026, Kesempatan Kuliah S2 di China, AS, hingga Indonesia

“Kami tidak nyaman dengan keberadaan pedagang tanaman hias ilegal yang menempati lahan lebih dari 10 tahun. Tapi pemerintah desa justru seperti melindungi mereka,” tambah Soekamto, mantan ketua RT 003 RW 007.

Diduga Ada Transaksi Ilegal

Warga mencurigai adanya praktik jual beli ilegal atas lahan fasos-fasum di perumahan tersebut, yang memicu ketegangan berkepanjangan.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================