BOGORTODAY.COM – Kerajaan Pajajaran, salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri megah di tanah Sunda, berakhir dengan kisah yang tragis dan penuh pelajaran.
Di balik keruntuhan kerajaan ini, nama Ratu Nilakendra muncul sebagai tokoh sentral yang memimpin di saat-saat paling genting dalam sejarah Pajajaran.
Ratu Nilakendra naik takhta pada masa ketika posisi Kerajaan Pajajaran sudah terdesak dari berbagai sisi.
Ancaman utama datang dari Kerajaan Banten, yang di bawah kepemimpinan Panembahan Hasanudin dan Pangeran Yusuf, mulai memperluas wilayah kekuasaan dan memperketat tekanan terhadap Pajajaran.
Konflik perbatasan antara kedua kerajaan memicu perang terbuka yang akhirnya mempercepat kejatuhan Pakuan, ibu kota Pajajaran.
Sayangnya, Ratu Nilakendra dinilai tidak memiliki kemampuan strategis untuk menghadapi situasi krisis. Dalam berbagai naskah kuno, termasuk Carita Parahiyangan, ia digambarkan lebih mengandalkan kekuatan spiritual ketimbang kekuatan militer.
Nilakendra disebut mempercayai keampuhan benda pusaka seperti “Ngibuda Sanghiyang Panji”, yang diyakini mampu menangkal marabahaya dan serangan musuh. Namun, keyakinan tersebut tidak cukup untuk melindungi istana dari gempuran pasukan Banten.
Alih-alih memimpin perlawanan, Ratu Nilakendra memilih untuk melarikan diri ke hutan Sunda saat Pakuan jatuh ke tangan musuh.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















