
Arief menerangkan, program ini tidak hanya fokus pada pemberian obat, tetapi juga mengedepankan edukasi dan pendekatan sosial. Pasien dan keluarganya diberikan informasi yang mudah dipahami mengenai pentingnya pengobatan TBC, dilengkapi dengan pendampingan kader terlatih yang melakukan pemantauan harian.
“Baik secara langsung maupun melalui grup komunikasi seperti WhatsApp. Kunjungan rumah secara berkala juga menjadi bagian dari pendekatan humanis yang diterapkan,” terang Arief.
Ia menambahkan, sejak mulai diterapkan awal tahun 2025, program ini menunjukkan dampak yang menggembirakan. Banyak pasien merasa lebih semangat menjalani terapi karena mendapatkan perhatian dan dukungan moral dari lingkungan sekitarnya.
“TBC bukan hanya masalah medis, tapi juga masalah sosial. Kami ingin pasien merasa tidak sendiri, dan masyarakat ikut mengambil peran dalam proses penyembuhan,” pungkasnya. (* / Gistin Iliyyin)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















