Layang-layang Jadi Peluang Usaha Musiman Warga Sukaraja

layang-layang
Firman (40) menunjukkan layang-layang yang ia jual di Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/7/2025). Foto : bogor-today.com/Jihan Muheri/Mg2.

BOGORTODAY.COM – Langit sore di Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dipenuhi warna-warni layang-layang. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semua larut dalam kegembiraan menerbangkan layang-layang, merayakan tradisi musiman yang terus hidup.

Musim layangan yang berlangsung dari April hingga Agustus tak hanya menjadi hiburan, tapi juga berkah bagi para pedagang. Salah satunya Aji (20), pemuda yang menjajakan aneka jenis layangan di pinggir jalan desa. Di atas tikar sederhana, Aji menyusun rapi dagangannya, Jabrug polos, Jabrug motif, Jabrug besar, hingga Sukhoi, jenis layangan dengan kerangka bambu yang lebih presisi.

“Kalau hujan terus, paling libur dulu. Hari ini baru kejual 10 pcs, biasanya bisa sampai 40 pcs,” ujar Aji kepada bogor-today.com, Rabu (30/7/2025).

Harga layangan yang dijual Aji bervariasi, mulai dari Rp2.500 hingga Rp10.000, tergantung jenis dan ukuran. Meski tidak memproduksi sendiri, Aji mengambil stok dari agen di pasar dan menjual kembali dengan margin tipis.

BACA JUGA :  Lari Pagi atau Lari Sore, Mana yang Lebih Baik? Ini Perbedaan Manfaatnya untuk Tubuh

“Saya beli layangan seharga Rp1.900 per pcs, terus saya jual Rp2.500. Tapi karena harga dari agennya naik, hari ini saya cuma berani stok 200 pcs. Biasanya bisa sampai 500 pcs,” katanya.

Di lokasi yang tak jauh dari lapak Aji, Firman (40) juga turut menjajakan dagangan serupa. Sejak pandemi 2023, Firman beralih profesi menjadi penjual layangan. Meski kini persaingan makin ketat, ia tetap bersyukur masih bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

“Sayangnya tidak seperti dulu, sekarang kan udah banyak pesaing. Tapi Alhamdulillah lumayan, bisa dapet hampir Rp200.000 per hari. Kalau lagi gak musim, ya paling Rp50.000,” ucap Firman.

Hari itu, Firman hanya mengantongi Rp35.000 dari hasil penjualan 30-40 layangan. Ia menjual berbagai jenis seperti Jabrug polos dan motif, Seot, hingga Sukhoi. Tak hanya layangan, ia juga menyediakan perlengkapan seperti benang dan kenur.

BACA JUGA :  Nyeri Haid: Kenali yang Normal dan Waspadai yang Berbahaya

“Setiap jenis kualitasnya beda, dari bambu sampai kertasnya. Ada yang pakai kertas tisu, ada juga yang kertas biasa,” jelasnya.

Firman biasa mengambil stok dari agen di Pasar Anyar, Bogor. Namun belakangan ini ia kesulitan mendapat pasokan dalam jumlah besar.

“Saya biasanya beli per ikat isi 50 pcs seharga Rp125.000. Tapi sekarang stoknya dibatasi sama agen karena banyak yang jualan juga,” tuturnya.

Meski keuntungan dari penjualan tidak selalu besar, Firman tetap bertahan. Perbedaan harga beli dan jual yang tipis membuatnya harus pandai menghitung untung rugi.

“Kalau Jabrug polos saya beli Rp1.500, jual Rp2.000. Ya untungnya tipis, Rp500 per pcs. Tapi kalau Jabrug motif, beli Rp2.500, saya jual juga Rp2.500. Itu antara rugi dan gak rugi,” ujarnya, sembari tertawa kecil. (Mg1/Mg2)

Bagi Halaman

Editor : Bas

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================