
Menurut laporan, proyek tersebut sempat dibahas dalam rapat bersama Menteri Urusan Yerusalem dan Warisan Israel pada 16 Juli 2025, hanya beberapa jam sebelum sang menteri mengundurkan diri.
Penggalian ini diyakini dilakukan tergesa-gesa agar tidak menimbulkan perdebatan publik. Namun, yang paling dikhawatirkan adalah dampaknya pada pondasi Masjid Al-Aqsa.
Al-Quds International Institution mencatat setidaknya sudah ada 64 penggalian dan terowongan di bawah kompleks Al-Aqsa hingga tahun 2025.
Lembaga itu menilai proyek-proyek tersebut mengancam stabilitas masjid dan kawasan sekitarnya.
Tuduhan Manipulasi Sejarah
Mantan Mufti Besar Yerusalem sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Islam di Yerusalem, Syekh Ekrima Sabri, menegaskan bahwa proyek terowongan hanyalah upaya manipulasi sejarah.
“Yang mereka klaim sebagai peninggalan peradaban Yahudi, pada dasarnya hanyalah saluran air tua yang dulu dipakai untuk mengalirkan air ke Masjid Al-Aqsa dan rumah-rumah di sekitarnya. Israel memperluas dan mengeringkannya agar tampak seperti jaringan terowongan kuno,” ujarnya.
Sabri juga memperingatkan bahwa sejumlah bangunan di kawasan Bab Al-Silsila dan Bab Al-Maghariba telah retak hingga sebagian runtuh akibat penggalian. Bahkan, terowongan baru ini melewati area tempat kantor Dewan Tertinggi Islam berada.
“Kami tidak akan meninggalkan Al-Aqsa maupun bangunan kami. Semua ini hanyalah propaganda, di mana kelompok Zionis berusaha meraih keuntungan dengan mengorbankan keberadaan warga asli Yerusalem,” tegasnya.
Insiden penggalian terowongan ini kembali menyoroti konflik panjang atas status Masjid Al-Aqsa, yang kerap menjadi titik panas dalam ketegangan Israel–Palestina.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















