Judol, Bom Waktu Gen Z

Judol
Agus Jatmika (Pengamat Masalah Sosial Budaya)

Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Masalah Sosial Budaya)

BEBERAPA hari yang lalu penulis sempat mengikuti Forum Group Diskusi (FGD) tentang judi online di kalangan Generasi Z yang  diselenggarakan oleh salah satu Universitas Swasta di Jakarta.

Dari paparan FGD tersebut satu hal yang menarik bahwa judol akan menjadi salah satu ancaman yang merusak karakter kalangan remaja atau Gen Z saat ini.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa generasi Z hidup di tengah banjir informasi dan teknologi digital. Mereka lahir saat internet sudah merajai keseharian, tumbuh bersama media sosial, dan terbiasa dengan segala yang instan.

Di sisi lain di balik wajah digital yang penuh warna, ada racun yang diam-diam menjalar yakni judi online. Fenomena ini tak ubahnya bom waktu sosial yang siap meledak, dengan Gen Z berada di garis depan sebagai korban paling rentan.

BACA JUGA :  Kemnaker Catat 23.470 Pekerja Terkena PHK hingga Mei 2026, Lebih Rendah dari Tahun Lalu

Dari data PPATK mengungkap jumlah pelaku judi online di Indonesia mencapai 4 juta orang, dan 53% di antaranya berusia 20–30 tahun. Artinya, lebih dari separuh adalah generasi muda, identik dengan Gen Z.

Angka itu semakin mencengangkan karena sekitar 80 ribu pemain berusia di bawah 10 tahun, sementara 11% di rentang 10–20 tahun. Perputaran uangnya pun gila-gilaan yakni dari Rp 15,7 triliun pada 2020 melonjak menjadi Rp 327 triliun pada 2023.

Sebuah lonjakan hampir 20 kali lipat, hal ini membuktikan bahwa judol bukan hanya sebagai hiburan daring, melainkan epidemi sosial.

BACA JUGA :  Sarwendah Ingin Perselisihan dengan Ruben Onsu Segera Tuntas Demi Anak-anak

Bagi Gen Z, judol bukan kasino gelap yang menakutkan, tetapi menyamar dalam wajah aplikasi ramah, iklan media sosial, atau game daring yang sehari-hari mereka mainkan. Taruhan receh Rp 10 ribu–100 ribu terlihat sepele, tapi justru itulah pintu masuk adiksi.

Dalam logika digital yang serba instan, judol menghadirkan ilusi jalan pintas seperti dari tekanan akademis, pengangguran, hingga gaya hidup konsumtif yang mereka lihat di media sosial.

Dalam hal ini sosiolog Anthony Giddens menyebut era modern penuh dengan “risiko yang diproduksi.” Judol bisa dibilang  merupakan contoh nyata dimana  anak muda berhadapan dengan risiko buatan dunia digital, dan sayangnya mereka kerap masuk tanpa sadar.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================