
Selain untuk menjangkau masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi digital, kanal aduan ini juga memperkuat sinergi dengan kanal resmi seperti SP4N Lapor dan Sapawarga. Dengan begitu, setiap laporan warga — baik dari desa maupun kota — dapat ditindaklanjuti secara cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran.
“Jangan sampai warga mengadu di media sosial. Kalau itu terjadi, berarti pemerintahan tidak berjalan dengan baik. Maka saya minta RT, RW, hingga bupati dan wali kota membuka ruang pengaduan agar pemerintah benar-benar hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Gerakan sosial ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satunya datang dari Yayasan Amal Qoryatul Mobarokah di Kampung Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, yang telah menjalankan gerakan seribu sehari sejak 2023.
“Setiap Jumat, dua orang anggota yayasan berkeliling ke dua RW setempat untuk mengumpulkan kenclengan. Alhamdulillah, setiap minggu terkumpul sekitar Rp2 juta,” ujar pengurus yayasan, Ida.
Dana tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, mulai dari membeli lahan pemakaman umum, membantu panti jompo, membiayai anak sekolah, hingga menolong warga yang sakit.
“Kami juga membantu panti jompo, anak sekolah sampai mengantar orang sakit ke rumah sakit, semua dibayarin,” ungkapnya.
Ia mengatakan, gerakan yayasannya itu mampu menjadi perhatian RW lainnya yang juga ingin mencontoh. Bahkan, menurutnya perwakilan Kementerian Sosial sudah menemui yayasan untuk membantu kepastian legal formal yayasan yang kini menjadi andalan warga setempat.
“Adanya Gerakan Poe Ibu semakin menyemangati kami untuk terus bekerja tanpa pamrih membantu warga,” pungkasnya.
Editor : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















