
Pria 24 tahu itu menduga kenaikan harga telur ayam negeri dipicu oleh rantai pasok yang saling terkait. Ia menyebut harga ayam potong yang belakangan juga naik turut memengaruhi harga telur. Selain itu, biaya pakan ternak yang terus meningkat diduga menjadi pemicu utama.
“Kurang tau faktornya ya, cuma kita ya ikut dari kandang. Bisa jadi dari yang pengambilnya, yang kuli-kuli yang datangnya. Kan bisa juga dari pakan faktornya. Kan sekarang ayamnya juga lagi naik, ngaruh ke telurnya juga,” tutur Najid
Sebagai pedagang tingkat akhir, Najid mengaku tidak memiliki banyak ruang untuk menegosiasikan harga. Ia hanya mengikuti harga yang ditetapkan oleh distributor atau pengepul yang mengambil telur langsung dari kandang peternak.
Lonjakan harga Rp 3.000 per kilogram dalam sepekan tentu tidak luput dari keluhan konsumen. Banyak pembeli yang menyampaikan keberatan langsung ke Najid. Namun, meski sering mendapat komplain, omzet penjualan Najid relatif stabil.
“Alhamdulillah, masih stabil. Biarpun harga naik, kita masih stabil lah,” tutup Najid.
Editor : Rifki Ramadhan
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















