Perundungan yang Tak Berujung

Perundungan
Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)

PERISTIWA ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta beberapa waktu lalu mengguncang nurani publik. Bukan hanya karena dentuman fisiknya, tetapi karena ledakan itu berasal dari luka sosial yang lama mengendap yakni perundungan.

Sekolah yang sejatinya menjadi ruang aman untuk tumbuh dan belajar justru berubah menjadi arena kekuasaan tak seimbang, dimana yang kuat menindas dan yang lemah diam dalam ketakutan. Di titik ini, kita melihat bagaimana pendidikan sering gagal menghadirkan empati dan nilai kemanusiaan.

Peristiwa di sekolah tersebut bukanlah insiden tunggal, melainkan potret dari sistem yang abai terhadap kesehatan sosial di lingkungan pendidikan. Budaya “senioritas” dan gengsi antarkelompok siswa sering dibiarkan tumbuh tanpa kendali.

Perundungan fisik maupun psikologis menjadi bagian dari “ritual sosial” yang dianggap biasa. Padahal, dalam perspektif sosiologi, praktik seperti ini memperlihatkan adanya relasi kekuasaan yang timpang dan struktur sosial yang melegitimasi kekerasan simbolik.

Ketika sekolah gagal menginternalisasikan nilai kesetaraan dan solidaritas sosial, maka dapat kehilangan watak pendidikannya yang paling hakiki.

Dalam hal ini sosiolog Bourdieu pernah mengingatkan bahwa kekerasan simbolik dapat berakar dari institusi yang seolah-olah netral, seperti sekolah.

Di sini, kekuasaan tersembunyi bekerja dalam bentuk diskriminasi halus, ejekan, atau tekanan sosial yang membuat sebagian siswa kehilangan harga diri. Dengan demikian ledakan bom di sekolah hanyalah manifestasi ekstrem dari tekanan yang lama dipendam.

BACA JUGA :  7 Tips Awet Muda untuk Pria agar Tetap Prima dan Percaya Diri

Disisi lain tragedi ini mengingatkan kita bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat belajar menjadi manusia.

Ketika nilai kemanusiaan terpinggirkan, pendidikan kehilangan ruhnya. Oleh karena itu  penyelidikan terhadap insiden di SMA 72 Jakarta semestinya tidak berhenti pada aspek kriminal semata, tetapi menelusuri akar sosiologis yang lebih dalam yakni mengapa kekerasan masih dianggap lumrah dalam ruang pendidikan kita.

Struktur Sosial yang Membiarkan Kekerasan

Dalam perspektif sosiologi konflik, perundungan mencerminkan pertarungan kekuasaan di tingkat mikro. Siswa yang mendominasi memanfaatkan posisi sosialnya untuk menegaskan superioritas, sementara yang tertindas menjadi korban dari sistem yang membungkam.

Sekolah seolah menjadi miniatur masyarakat yang sarat dengan ketimpangan yakni   siapa yang populer, siapa yang berani, siapa yang dianggap “berbeda”. Dari hal ini diskriminasi tumbuh dalam bentuk ejekan, pengucilan, hingga kekerasan fisik.

Ironisnya, meski banyak sosialisasi tentang perundungan  hingga dibentuk tim anti perundungan atau duta anti perundungan, namun tak sedikit ejekan dianggap “hal biasa antar-remaja”, seolah sebuah proses sosial yang akan sembuh dengan waktu.

BACA JUGA :  Piala AFF 2026 Jadi Ajang Pembuktian Kualitas Pemain Domestik Racikan John Herdman

Padahal, dari perspektif teori interaksionisme simbolik, setiap ejekan dan kekerasan membentuk makna baru tentang diri korban bahwa mereka memang “lemah” dan “tak berharga”. Sehingga identitas yang dirusak akan menjadi luka sosial yang sulit disembuhkan.

Disisi lain, budaya kompetitif yang kian menguat di sekolah membuat siswa berlomba bukan hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam status sosial. Sementara itu  media sosial memperburuk situasi ini, karena memperluas arena perundungan menjadi dunia maya.

Kini, perundungan tidak berhenti di ruang kelas tetapi juga menjelma menjadi linimasa digital yang tak punya batas waktu maupun ruang. Hal ini  menunjukkan bahwa struktur sosial baru yang bersandar pada popularitas virtual turut memperkuat kekerasan simbolik di kalangan pelajar.

Selain itu ketiadaan mekanisme sosial yang mampu meredam kekerasan membuat sekolah kehilangan daya proteksi terhadap siswanya.

Institusi pendidikan, yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi ladang subur bagi replikasi kekuasaan sosial. Sehingga apa  yang terjadi di SMA 72 Jakarta adalah tanda bahaya bahwa struktur sosial yang permisif terhadap kekerasan telah gagal menjalankan fungsi sosialnya.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================