
“Kehadiran AMDK memberikan efek ganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari jasa transportasi hingga sektor ritel. Kami mengapresiasi pelaku usaha yang terus mengembangkan sektor ini demi pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Merrijantij.
Data menunjukkan industri AMDK Indonesia mengalami ekspansi signifikan dengan pertumbuhan rata-rata 5-8 persen per tahun. Dari hanya satu pabrik di tahun 1973, kini telah berkembang menjadi 707 pabrik dengan lebih dari 2.000 merek dan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun. Sektor ini juga menyerap 46.000 tenaga kerja langsung dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen.
Meski tumbuh pesat, Karyanto mengakui tantangan industri AMDK semakin kompleks. Isu-isu seperti regulasi migrasi BPA pada kemasan, sinkronisasi aturan pusat dan daerah, hingga penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi fokus utama.
“Industri juga harus beradaptasi dengan tren ekonomi sirkular, digitalisasi, dan sertifikasi halal. AMDATARA akan menjadi platform bagi anggota untuk bersama-sama menjawab tantangan tersebut agar industri AMDK tetap berdaya saing dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Saat ini, AMDATARA telah didukung oleh puluhan perwakilan anggota yang tersebar dari wilayah Sumatera, Jawa, Bali, hingga Sulawesi.
Editor : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














