
“Nyeri karena GERD memang sering terasa saat perut bagian atas ditekan. Tapi untuk memastikan, tetap perlu pemeriksaan klinis dan EKG,” katanya.
Bahkan, dalam beberapa kasus, GERD dan penyakit jantung bisa terjadi bersamaan. Seseorang bisa saja memiliki riwayat gangguan lambung menahun, namun pada saat yang sama juga mengalami sumbatan pembuluh darah jantung.
GERD Tidak Menyebabkan Henti Jantung
Di tengah ramainya diskusi publik, Vito menegaskan satu hal penting: GERD dan penyakit jantung adalah dua kondisi yang berbeda.
“GERD tidak menyebabkan sumbatan jantung, dan sumbatan jantung tidak menyebabkan GERD. GERD juga tidak menyebabkan henti jantung,” tegasnya.
Sebaliknya, serangan jantunglah yang bisa berujung pada henti jantung jika tidak ditangani dengan cepat. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak serta-merta menganggap nyeri dada atau ulu hati sebagai GERD, terutama bila gejalanya mengarah ke gangguan jantung.
Kapan Harus Waspada dan Segera Periksa?
Nyeri ulu hati patut dicurigai sebagai kondisi serius bila muncul bersamaan dengan:
- Keringat dingin
- Mual hebat atau muntah
- Sesak napas
Risiko semakin tinggi jika seseorang memiliki faktor seperti tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok.
“Lebih aman segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu,” ujar Vito.
Kasus yang ramai dibicarakan publik ini kembali menegaskan pentingnya edukasi kesehatan. GERD dan henti jantung memang tidak berhubungan secara langsung, namun kemiripan gejalanya bisa berakibat fatal jika masyarakat keliru menilai dan menunda pemeriksaan.
“Pesannya sederhana, lebih baik dibilang ‘cuma GERD’ setelah diperiksa dokter, daripada menyesal karena terlambat menangani serangan jantung,” pungkasnya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















