
Selain faktor oksigen, berkurangnya aliran darah ke kulit juga berperan besar dalam perubahan warna bibir. Saat henti jantung atau ketika tekanan darah turun drastis akibat syok, tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah ke organ-organ vital seperti otak dan jantung.
“Tubuh akan ‘mengorbankan’ kulit demi mempertahankan fungsi organ penting. Aliran darah ke kulit dan ujung jari pun berkurang,” kata dr. Vito.
Kombinasi antara darah yang kekurangan oksigen dan minimnya aliran darah ke permukaan tubuh membuat bibir tampak biru, keunguan, bahkan terasa dingin. Pada kondisi yang lebih berat, gejala ini dapat disertai kulit pucat, lembap, serta muncul keringat dingin.
Sianosis, Tanda Darurat Medis
Dalam dunia medis, perubahan warna kebiruan pada bibir dikenal sebagai sianosis. Kondisi ini merupakan tanda darurat karena menunjukkan jaringan tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup.
Dokter mengingatkan, bibir biru atau keunguan tidak boleh diabaikan, terlebih jika muncul bersamaan dengan gejala lain seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pusing hebat, atau tubuh terasa sangat lemah.
“Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera karena berkaitan langsung dengan keselamatan nyawa,” tegas dr. Vito.
Mengenali tanda-tanda awal kondisi darurat seperti perubahan warna bibir dapat membantu seseorang segera mencari pertolongan medis, sehingga risiko fatal bisa diminimalkan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















