
Wilayah Labuan Bajo menjadi perhatian khusus karena tekanan aktivitas pariwisata yang meningkat. Meski di Labuan Bajo kota spesies ini sudah tidak ditemukan, kantong populasi masih tersebar di bagian selatan, seperti dari wilayah Golo Mori hingga Tanjung Kerita Mese.
“Tekanannya selain dari aktivitas pariwisata yang sekarang makin meningkat ya. Kalau masif tapi berkontribusi baik tidak masalah, tapi ini meningkat dan itu yang harus menjadi hal yang harus dipikirkan bagaimana caranya mempertahankan populasi di situ,” tambah Deni.
Pendekatan Multidisipliner dan Pelibatan Masyarakat
Proyek IN-FLORES mengusung tiga komponen utama untuk mewujudkan keberhasilannya, seperti penguatan tata kelola bentang alam terintegrasi. Selain itu, peningkatan pelibatan sektor swasta dan masyarakat serta diversifikasi pembiayaan konservasi, hingga manajemen pengetahuan, perlindungan, serta pemantauan dan evaluasi.
Deni Purwandana menjelaskan bahwa pendekatan konservasi tidak bisa hanya dilakukan dari sisi ekologi, melainkan harus melibatkan pakar sosiologi dan antropologi untuk menyentuh masyarakat lokal. Hal ini penting karena masyarakat di beberapa lokasi masih memiliki resistensi terhadap istilah “konservasi”.
“Masyarakat itu kadang-kadang di beberapa lokasi agak sedikit alergi dengan kata-kata konservasi. Namun, sebetulnya sehari-hari mereka banyak yang hidup berdampingan dengan Komodo. Jika diberi pemahaman, insyaallah mereka bisa mengerti,” jelasnya.
Melalui SRAK Biawak Komodo dan rencana aksi IBSAP 2025-2045, pemerintah berharap simbol keanekaragaman hayati Indonesia ini dapat terus terjaga di tingkat global, baik di dalam maupun di luar kawasan pelestarian alam.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















