
BOGORTODAY.COM – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan secara resmi menyusun dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Biawak Komodo dalam pertemuan yang digelar di Hotel Grand Savero, Kota Bogor, Kamis (26/2/2026). Langkah strategis ini merupakan bagian dari implementasi proyek “Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES)”.
Proyek ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dengan Global Environment Facility (GEF) dan UNDP Indonesia. Tujuannya adalah mengoptimalisasi pengelolaan biodiversitas spesies kunci seperti Biawak komodo, Elang flores, dan kakatua kecil jambul kuning di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Populasi Komodo di Luar Kawasan Lindung Terancam
Salah satu poin krusial yang dibahas dalam penyusunan SRAK ini adalah kondisi populasi komodo di luar kawasan lindung formal. Peneliti dari Komodo Survival Program (KSP), Deni Purwandana, mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi spesies endemik ini di Pulau Flores.
“Sebetulnya Komodo yang di Flores itu, itu berada di seluruh sebarannya itu, 50% itu di luar kawasan lindung yang formal gitu, di luar KSA (Kawasan Suaka Alam) dan KPA (Kawasan Pelestarian Alam),” ujar Deni Purwandana.
Deni menekankan bahwa tanpa adanya mitigasi dan penguatan ruang, habitat komodo yang saat ini mencakup sekitar 50.000 hektar terancam terus berkurang. Ia mengkhawatirkan kantong-kantong populasi akan semakin mengecil dan konektivitas antar habitat akan terputus, yang berujung pada kondisi populasi yang tidak sehat.
Titik Kritis di Wilayah Flores
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















