
Menulis Tangan sebagai Bentuk Tugas Otentik
Salah satu langkah konkret untuk mencegah penyalahgunaan AI dalam mengerjakan tugas adalah dengan menghidupkan kembali budaya menulis tangan.
- Resume Mandiri: Siswa mungkin menonton video instruksional atau materi lewat layar digital, namun mereka diwajibkan menyusun rangkuman atau gagasan mereka menggunakan pena dan kertas.
- Menghindari Jasa Pihak Ketiga: Berbeda dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sering kali dikerjakan oleh orang tua atau guru privat, tulisan tangan dianggap lebih mencerminkan kemampuan otentik dan pemikiran mandiri anak.
- Melatih Motorik: Menulis tangan melibatkan koordinasi fisik yang lebih kompleks dibandingkan sekadar mengetik dengan dua jari di ponsel. Hal ini diyakini mampu menstimulasi sinergi saraf dan keaktifan motorik siswa.
Jaminan Keamanan Materi Koding dan AI
Pemerintah baru saja meresmikan Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri sebagai panduan penggunaan teknologi digital di dunia pendidikan.
Kolaborasi lintas kementerian ini memastikan bahwa kurikulum AI dan koding yang diberikan kepada siswa (termasuk yang di bawah usia 16 tahun) berada dalam koridor yang aman.
Beberapa poin utama dalam penerapan ini meliputi:
- Materi Terpusat: Konten pembelajaran disediakan langsung oleh Kemendikdasmen untuk menjamin keamanan dan relevansi usia.
- Pelatihan Tenaga Pengajar: Guru akan dibekali keahlian khusus agar mampu mengarahkan pemanfaatan AI secara bijak di kelas.
- Literasi Digital: Fokusnya bukan sekadar menggunakan alat, melainkan membangun pola pikir kritis dalam membedah informasi digital.
Langkah strategis ini diharapkan dapat mencetak generasi yang mahir teknologi tanpa kehilangan kemampuan dasar dalam berlogika dan menuangkan gagasan secara personal.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















