
Tak lama kemudian, ia wafat akibat luka yang dideritanya. Kisah ini pun disampaikan kepada Rasulullah SAW. Mendengar hal tersebut, beliau bersabda bahwa Al-Ushairim termasuk penghuni surga. Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa ia “beramal sedikit, namun mendapatkan balasan yang besar.”
Sahabat Abu Hurairah juga menegaskan bahwa Al-Ushairim belum sempat melaksanakan salat hingga ia wafat sebagai syahid.
Kisah Kontras: Perjuangan Tanpa Keikhlasan
Di sisi lain, terdapat kisah yang bertolak belakang dari seorang bernama Quzaman. Ia juga ikut bertempur di Perang Uhud dengan keberanian luar biasa, bahkan berhasil mengalahkan beberapa musuh.
Namun, ketika ditanya tentang motivasinya, ia mengakui bahwa ia berperang bukan karena iman, melainkan demi membela kehormatan kaumnya. Ketika luka yang dideritanya terasa semakin berat, ia akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW menyatakan bahwa jika benar demikian niatnya, maka ia termasuk golongan penghuni neraka.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Kisah Al-Ushairim dan Quzaman memberikan pelajaran penting bahwa nilai suatu amal sangat bergantung pada niat yang melatarbelakanginya. Keikhlasan menjadi kunci utama dalam menentukan nasib seseorang di akhirat.
Al-Ushairim mungkin hanya memiliki waktu singkat dalam Islam, namun ketulusan imannya mengantarkannya pada surga. Sebaliknya, perjuangan besar tanpa niat yang benar justru berujung pada kerugian.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa rahmat Allah SWT begitu luas, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah—bahkan di detik-detik terakhir kehidupannya.
Wallahu a’lam.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















