BOGORTODAY.COM – Pihak manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional I PKS Cikasungka angkat bicara terkait longsor yang terjadi di area Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) perusahaan pada 16 April 2026 lalu.
Perusahaan menyatakan saat ini proses penanganan dan normalisasi terus dilakukan secara intensif.
Manajer PTPN IV Regional I PKS Cikasungka, Alfi Andrianto mengatakan, longsor terjadi pada area kolam IPAL yang berada di wilayah operasional perusahaan dan berdekatan dengan sejumlah desa di Kecamatan Cigudeg dan Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Menurutnya, tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor utama penyebab longsoran pada sebagian tanggul kolam IPAL.
“Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan peningkatan debit air dan tekanan pada area kolam IPAL sehingga memicu longsoran,” ucap Alfi Andrianto, Jumat 22/05/2025.
Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat peristiwa tersebut.
Saat ini, pihak perusahaan bersama tim teknis operasional dan lingkungan masih terus melakukan proses normalisasi kolam IPAL secara bertahap.
“Penanganan memerlukan waktu karena kondisi cuaca dan curah hujan yang masih relatif tinggi, sehingga proses normalisasi dilakukan secara hati-hati agar hasilnya optimal, aman dan berkelanjutan,” katanya.
Selain penanganan jangka pendek, perusahaan juga telah mengajukan program Land Application sebagai langkah pengelolaan limbah cair yang dinilai lebih berkelanjutan.
Nantinya, limbah hasil pengolahan akan dimanfaatkan untuk aplikasi di area kebun kelapa sawit milik perusahaan sesuai regulasi dan standar lingkungan yang berlaku.
Di sisi lain, PTPN IV Regional I PKS Cikasungka juga mengklaim terus menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bagi masyarakat sekitar.
Pada 20 April 2026 lalu, perusahaan telah memfasilitasi sarana air bersih dan MCK bagi warga di Kampung Mede dan Kampung Tarikolot, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cigudeg.
Selain itu, pada tahun 2025 perusahaan disebut telah membangun tujuh titik sumur bor di wilayah Desa Mekarjaya.
Tak hanya itu, perusahaan juga mengusulkan tambahan pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah pada tahun 2026, di antaranya Desa Kalong Sawah, Desa Koleang, Desa Pangaur dan Desa Wisata Sipak.
Saat ini, usulan program CSR tersebut masih dalam tahap evaluasi dan menunggu persetujuan dari pimpinan pusat.
Dalam upaya pemulihan lingkungan, perusahaan turut melakukan penyebaran 10 ribu bibit ikan di Sungai Cikarong dan Sungai Cidurian pada 9 Mei 2026. Bibit yang ditebar terdiri dari 5.000 ikan nila dan 5.000 ikan tawes.
“Langkah ini sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem sungai sekaligus meredam isu terkait dugaan matinya ikan akibat pencemaran limbah IPAL,” jelas Alfi.
Selain fokus pada penanganan lingkungan, perusahaan juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di wilayah Kecamatan Cigudeg dan Kecamatan Jasinga.
Berdasarkan data perusahaan, jumlah warga terdampak mencapai 1.076 kepala keluarga yang tersebar di beberapa desa, di antaranya Desa Cintamanik, Jagabita, Bangun Jaya, Ranggasjaya, Batu Jajar hingga Desa Tegal Lega.
Alfi Andrianto menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan sistem pengelolaan lingkungan dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar.
“Seluruh proses penanganan dilakukan secara transparan, bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tandasnya.
Editor : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















