
Pasar Jambu Dua sendiri memiliki total kapasitas mencapai 1.141 kios dan los. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 unit berada di lantai atas, sementara di lantai bawah masih tersedia ruang yang mampu menampung sekitar 300 Pedagang Kaki Lima (PKL). Secara keseluruhan, total ruang yang masih kosong di seluruh area pasar berkisar 900 kios dan los.
Meski masih ada ruang kosong di beberapa sudut, khusus untuk area tenant kuliner di lantai atas justru mencatatkan minat yang sangat tinggi dari para pelaku usaha.
“Untuk area kuliner di atas sudah sold out (habis terjual). Bahkan saat ini sudah ada waiting list sekitar 200 orang pelaku usaha yang mengantre masuk daftar tunggu,” ungkap Ages optimis.
Simbiosis Mutualisme dengan Pasar Basah
Kehadiran pusat kuliner baru ini rupanya membawa dampak domino yang positif terhadap ekosistem perdagangan pasar basah yang terletak di lantai bawah.
“Di lantai bawah itu ada pasar basah yang menjual buah, sayur, telur, ikan, dan daging. Menariknya, para pedagang kuliner di lantai atas juga berbelanja kebutuhan bahan baku dagangan mereka di lantai bawah. Jadi ada perputaran ekonomi yang saling mendukung (support) antara pedagang bawah dan atas,” jelas Jenal Abidin.
Kini, dengan jam operasional yang dinamis—bahkan sempat menyentuh 12 jam penuh pada hari Sabtu dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB—Pasar Jambu Dua menjelma menjadi ruang interaksi sosial baru bagi warga Bogor, mulai dari lansia, anak-anak, remaja, hingga kalangan mahasiswa.
Ke depan, pihak pengelola akan terus mendongkrak angka kunjungan masyarakat dengan menggandeng para influencer media sosial serta mengoptimalkan publikasi media massa, dengan harapan konsep community hub berbasis ekonomi kerakyatan ini bisa direplikasi di pasar-pasar rakyat lainnya di Kota Bogor.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















